Pages

Saturday, 29 December 2012

Yang Di Butuhkan

Kalimat: Berdoa dan Berusaha, sudah pasti sering kita dengar. Mungkin klasik, tapi seringnya hal-hal klasik merupakan sesuatu yang lebih sering benar. 

Misalnya, ketika kita menginginkan sesuatu, dengan hanya berdoa saja tidaklah cukup. Tuhan tidak serta merta menjatuhkan 'harapan' kita dari langit tanpa kita berusaha untuk menggapainya. Dibutuhkan peluh dari tiap inci usaha yang kita lakukan.

Dia juga ingin melihat sejauh mana kesungguhan kita karena tidak ingin apa yang IA beri, kita sia-siakan begitu saja.

Dan, bila langkah kita telah banyak tercipta, telah banyak luka yang tergores, telah menghasil berbutir-butir peluh, maka yang dibutuhkan adalah PERCAYA.

Percaya, kalau Tuhan merupakan Dzat yang Maha Mengetahui tempat terbaik untuk kita berkarya, menghasilkan serta menjadi manfaat bagi orang di sekitar. Tidak hanya sekedar 'menghasilkan' namun juga memberi kebaikan dan berguna untuk orang-orang disekitar. 
Percaya, bahwa Tuhan sedang menyiapkan kado terindah untuk manusia sabar seperti kita.
Percaya, bahwa Tuhan tidak sedang tertidur lelap melainkan mendengarkan tiap hela nafas berisi doa terindah yang kita ucapkan disetiap jengkal langkah.
Percaya, bahwa rasa YAKIN yang terus kita tanamkan padaNya akan menghantarkan kita pada sebuah keindahan tersendiri yang selama ini kita tunggu.

Maka, jika kita telah berusaha, telah berdoa, yang dibutuhkan selanjutnya adalah hati yang lebih lapang untuk bersabar menanti 'hadiah' terindah dari Tuhan.

Selamat siang blogger!

Monday, 17 December 2012

LUPA



 “Lo pulang sama siapa?” tanya Denis atau lebih tepat disebut menodong.
Ulin mengatur nafasnya yang tersengal tiap berhadap dengan makhluk songong namun diam-diam ia sukai itu.
“Sendiri.” Jawabnya berusaha sebiasa mungkin.
“Gue anter ya.”
“Hm… makasih, tapi gak perlu.” Tolak Ulin halus tapi makhluk ganteng didepannya ini bukan tipe mudah menyerah, cukup ngeyel malah. Jadi, ia telah bersiap membuka mulut untuk mencoba mengajak Ulin pulang bersamanya lagi. Namun, sebelum niat itu terlaksana, satu tangan kekar berwarna kecoklatan dengan dihiasi sedikit bulu-bulu halus telah memegang lengan Ulin. Bukan hanya memegang tapi juga mencengkram.
“Sori, Den, Ulin pulang sama gue, Pras dan Ava. Tadi kita udah janjian mau nonton, tapi si Ulin malah lupa makanya gue susulin kesini.” Cerocos Leno, sahabat Ulin sejak TK yang tak mempedulikan kekecewaan tergambar jelas di wajah Denis.
“Gue boleh ikut kalian nonton? Gue yang traktir deh.” Pinta Denis. “Hari ini anniversarrynya LUPA, jadi khusus anggota LUPA aja.”
Kemudian, setelah menyentak pelan lengan Ulin, mereka berlalu meninggalkan Denis yang terpaku memandangi punggung Ulin. Hatinya perih sekali…
JJJ
“Lo jahat!” cetus Ulin ketika mereka telah sampai tempat parkir dan jauh dari Denis. Ava sudah pergi duluan ke XXI di Supermall Lippo Karawaci bersama Pras untuk memesan tiket bagi mereka berempat.
“Lin, gue bukan jahat, tapi ini demi elo juga.” Ujarnya kalem sambil membuka pintu mobil Starlet putih miliknya. “Kalo terlalu dekat sama Denis, nanti lo bisa jatuh cinta sama dia. Itu bahaya, Lin… setidaknya untuk sekarang.”
‘Udah jatuh cinta duluan gue!’ umpat Ulin dalam hati.
JJJ
Denis berdiri dengan wajah garang didepan kelas 2IPS2 menghadang laju Leno, Ava dan Pras.
“Apa-apaan nih?” tanya Leno tak senang.
“Gue mau bicara sama lo bertiga sekarang juga.”
“Tentang apa?” sahut Ava lembut.
“Ngomong tinggal ngomong. Susah bener.” Sungut Leno.
“Sabar dong, Len.” Kata Pras. “Kita ngobrol di kantin kalo lo mau. Mumpung jam masuk juga masih lama.” Tawar Pras bijak yang langsung di iyakan oleh mereka.
 Denis menatap mata para sahabat terdekat Ulin itu lekat-lekat. “Ada apa sama Ulin?”
Tiga sahabat itu saling pandang, “Emang Ulin kenapa?” tanya Ava khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada Ulin.
“Ulin baik-baik aja, dia lagi on the way ke sekolah kok sekarang.” Pras menjawab dengan tenang.
Denis terlihat frustasi, kemudian ia menghitung sampai tiga dan akhirnya berkata, “Gue kemarin nembak Ulin.” Mulainya. “Tapi, Ulin nolak dengan alasan yang sama sekali gak jelas. Dia bilang kalo dia gak mau ngekhianatin elo bertiga. Gue mohon, jelasin duduk perkaranya sama gue. Sekarang.”
Ava dan Pras menatap tajam pada Leno yang mendengus pada Denis, “Ulin emang gak suka kali sama lo.” Ujarnya ketus.
Dengan raut penuh rasa bersalah, Ava bersuara, “Gini Den… kita punya perjanjian KONYOL gagasan Leno.” Ava sengaja menekan bagian kata Konyol. “Sebelum selesai UAN, kita gak pacaran. Itu perjanjian LUPA namanya. Leno, Ulin, Pras, Ava.
.“Sebenarnya, Ulin suka sama lo, Den. dia pernah cerita. Tapi lo tau sifat Ulin gimana kan? Sama janji yang udah dia buat, gak gampang bagi dia untuk dibatalin gitu aja.” Tambah Pras.
Denis tersenyum.
“Oke, semua jadi lebih jelas buat gue sekarang. Thanks ya.” Ujar Denis tulus lalu bangun dari duduknya.
“Kalo emang lo beneran suka Ulin, lo pasti gak keberatan buat nunggu Ulin. UAN sebentar lagi, kok.” Kata Leno tanpa menatap Denis.
Denis Cuma tersenyum mendengar kalimat Leno. Cowok itu sudah tau apa yang harus ia lakukan. Setelah berterima kasih pada Leno, Ava dan Pras, Denis bergegas kembali kekelas.
JJJ
Aku udah tau masalahnya, aku juga udah tau kamu suka juga sama aku. Jadi, aku rasa gak ada masalah lagi. Aku akan nunggu kamu hingga batas perjanjian itu berakhir. Aku sayang banget sama kamu, Lin… -Denis.’

Sunday, 16 December 2012

Melajulah


Teruslah melaju dijalur hidupmu. Kendarai kendaraanmu dengan bijak ketika memilih jalur. Tak berputar arah meski temui masalah. Hadapi dan selesaikan, lalu teruskan perjalanan. Tentu akan mendapat pilihan-pilihan. Gunakan percampuran antara logika dan rasa untuk menemukan jalan terbaik. Lalu, gunakan spion masalalu sebagai tolak ukur perjalanan, bahan evaluasi agar tak ulangi salah yang sama, bukan jadi cermin yang menjatuhkan kita dalam lubang keterpurukan.

Ayo kita melaju, sayang...

Saturday, 15 December 2012

Bila

... Bunga yang mekar akan layu perlahan
Bila tanpa siraman
Bila tanpa pupuk
Bila tanpa sinar matahari

...Kumbang yang gemuk besar akan jatuh terlelah
Jika terbang tanpa tujuan
Jika terbang tanpa angin yang membelainya
Jika terbang tanpa ada tempat istirahat

...Macan yang paling ganas pun akan jemu dan mati kebosanan
Apabila di abaikan
di acuhkan
di kucilkan

Begitu pun aku...

Thursday, 13 December 2012

Di Halte Bus



Aku sedang jalan tergesa-gesa, menghindari garang sinar matahari yang mencoba untuk membuat kulit hitamku semakin gosong. Saat itulah kudapati Juna memanggilku dari pinggir lapangan basket.
“Buru-buru amat, mau kemana lo?” tanyanya dengan kedua tangan sibuk mendribble bola basket. Dibelakangnya beberapa temannya memanggil Juna agar lekas kembali ke arena. Juna tampak tak peduli, ia hanya menoleh sekilas, “Bentar.” Sahutnya cuek.
“Pulang.” Jawabku singkat karena merasa jengah pada Juna dan teman-temannya yang terus memandangku. Seakan akulah penyebab mangkirnya Juna dari permainan mereka.
“Gak sama Ranti?”
“Baru mau samper dia di kelasnya sekarang.” Aku meraih hp disaku bajuku. Terlihat nama Ranti disana. “Cabut duluan ya, dia udah nelpon nih.” Pamitku sambil memperlihatkan layar hp pada Juna.
Sebelum aku melangkah terlalu jauh dari lapangan basket, kudengar Juna memanggilku kembali. “Bilangin Ranti, nanti gue tunggu di halte depan.” Kemudian Juna berbalik dan kembali berlari bersama genk basketnya.
JJJ
Wajah Ranti terlihat menyesal ketika melihat kedatanganku.
“Telpon dari gue kok gak diangkat, Ta?” tanyanya.
“Kenapa emang? Tadi gue lagi diajak ngobrol Juna, waktu mau diangkat udah mati duluan.” Aku bisa melihat dengan jelas kilatan kembang api dimata belo Ranti saat kusebut nama Juna.
“Gue ada tugas kelompok, mau rembukin tema pembahasannya sekarang. Gak lama sih, mau nungguin kan?” Ranti sedikit memohon.
Karena malas pulang sendiri maka aku menyetujuinya. Lantas akupun bergabung dengan teman sekelompok Ranti yang rata-rata telah kenal baik padaku. Tiba-tiba Ranti menyeretku sedikit menjauh dari teman-temannya.
“Lo ngobrol apaan sama Juna?” tanyanya penuh rasa ingin tau.
“Oh itu… Juna nitip pesan buat lo.”
“Apa?”
“Dia nunggu elo di halte depan sekolah.”
Sudah kuduga, Ranti pasti akan senang sekali mendengar berita ini. Pasalnya, sudah enam bulan ia dan Juna dekat. Meski belum ada kata jadian, tapi gossip tentang Juna dan Ranti sudah menyebar hingga ke seantero sekolah. Lucunya, semua berlomba memberi komentar tentang kedekatan mereka. Ada yang setuju, banyak juga yang tidak karena katanya beda kasta. Ranti berasal dari dunia para nerd berasal sementara Juna terlahir dikalangan ksatria popular yang dipuja cewek satu sekolah.
“Semoga diskusinya cepat.” Harap Ranti. Gadis berambut lurus itu kemudian kembali pada teman-teman sekelompoknya dan memaksa mereka segera menyelesaikan diskusi.
JJJ
Sudah satu jam lewat dari waktu bubaran sekolah seharusnya membuat keadaan halte lebih lenggang. Namun sayang, kenyataannya yang menyapa tidak demikian. Segerombolan orang ternyata masih betah menghabiskan waktunya disana. Kebanyakan sih diisi oleh pasangan yang gak punya uang untuk jalan ke Mall. Diantara para pasangan itu, Ranti menajamkan penglihatannya. Sedikit gelisah dan berkeluh kesah, matanya meneliti setiap sudut mencari sosok Juna.
“Udah pulang mungkin, Ran.” Kataku yang ikutan pegal melihat tingkahnya.
Ranti cemberut mendengar ucapanku, “Yah… masa udah pulang sih Junanya. Katanya mau nunggu gue di halte…”
Aku mendengus, “Dia bilangnya dari satu jam yang lalu, Ranti. Lagian kenapa gak sms atau telpon elo aja sih biar gak repot.” Sungutku. “Padahal nomor telpon udah tau, masih aja gunain orang lain sebagai media untuk menyampaikan pesan. Itu kan merepotkan orang lain jadinya. Dan, kalo emang mau barengan pulang, Juna bisa kan nyamperin elo kekelas, seperti gue nyamperin elo.” aku menoleh dan mendapati bapak-bapak setengah baya tengah memandangku dengan muka heran. Takut-takut, kusunggingkan senyum padanya lalu pergi mencari Ranti.
Disudut halte kutemukan Ranti sedang berdiri. Ia mematung. tatapannya tajam tertuju pada segerombolan siswa dan siswi yang merupakan kakak kelas mereka. Sungguh, gerombolan itu tidak terlalu istimewa bagi Ranti meski terdiri dari anak-anak popular. Hanya satu yang menjadi fokus penglihatan Ranti yaitu keberadaan Juna. Cowok hitam manis kapten basket di sekolah yang katanya ingin menunggu Ranti, nyatanya kini sedang duduk di jok motor, asyik bercengkrama bersama teman-temannya, dengan Diva –mantannya- duduk tepat disebelahnya sambil bergelayut manja.