Pages

Thursday, 13 December 2012

Di Halte Bus



Aku sedang jalan tergesa-gesa, menghindari garang sinar matahari yang mencoba untuk membuat kulit hitamku semakin gosong. Saat itulah kudapati Juna memanggilku dari pinggir lapangan basket.
“Buru-buru amat, mau kemana lo?” tanyanya dengan kedua tangan sibuk mendribble bola basket. Dibelakangnya beberapa temannya memanggil Juna agar lekas kembali ke arena. Juna tampak tak peduli, ia hanya menoleh sekilas, “Bentar.” Sahutnya cuek.
“Pulang.” Jawabku singkat karena merasa jengah pada Juna dan teman-temannya yang terus memandangku. Seakan akulah penyebab mangkirnya Juna dari permainan mereka.
“Gak sama Ranti?”
“Baru mau samper dia di kelasnya sekarang.” Aku meraih hp disaku bajuku. Terlihat nama Ranti disana. “Cabut duluan ya, dia udah nelpon nih.” Pamitku sambil memperlihatkan layar hp pada Juna.
Sebelum aku melangkah terlalu jauh dari lapangan basket, kudengar Juna memanggilku kembali. “Bilangin Ranti, nanti gue tunggu di halte depan.” Kemudian Juna berbalik dan kembali berlari bersama genk basketnya.
JJJ
Wajah Ranti terlihat menyesal ketika melihat kedatanganku.
“Telpon dari gue kok gak diangkat, Ta?” tanyanya.
“Kenapa emang? Tadi gue lagi diajak ngobrol Juna, waktu mau diangkat udah mati duluan.” Aku bisa melihat dengan jelas kilatan kembang api dimata belo Ranti saat kusebut nama Juna.
“Gue ada tugas kelompok, mau rembukin tema pembahasannya sekarang. Gak lama sih, mau nungguin kan?” Ranti sedikit memohon.
Karena malas pulang sendiri maka aku menyetujuinya. Lantas akupun bergabung dengan teman sekelompok Ranti yang rata-rata telah kenal baik padaku. Tiba-tiba Ranti menyeretku sedikit menjauh dari teman-temannya.
“Lo ngobrol apaan sama Juna?” tanyanya penuh rasa ingin tau.
“Oh itu… Juna nitip pesan buat lo.”
“Apa?”
“Dia nunggu elo di halte depan sekolah.”
Sudah kuduga, Ranti pasti akan senang sekali mendengar berita ini. Pasalnya, sudah enam bulan ia dan Juna dekat. Meski belum ada kata jadian, tapi gossip tentang Juna dan Ranti sudah menyebar hingga ke seantero sekolah. Lucunya, semua berlomba memberi komentar tentang kedekatan mereka. Ada yang setuju, banyak juga yang tidak karena katanya beda kasta. Ranti berasal dari dunia para nerd berasal sementara Juna terlahir dikalangan ksatria popular yang dipuja cewek satu sekolah.
“Semoga diskusinya cepat.” Harap Ranti. Gadis berambut lurus itu kemudian kembali pada teman-teman sekelompoknya dan memaksa mereka segera menyelesaikan diskusi.
JJJ
Sudah satu jam lewat dari waktu bubaran sekolah seharusnya membuat keadaan halte lebih lenggang. Namun sayang, kenyataannya yang menyapa tidak demikian. Segerombolan orang ternyata masih betah menghabiskan waktunya disana. Kebanyakan sih diisi oleh pasangan yang gak punya uang untuk jalan ke Mall. Diantara para pasangan itu, Ranti menajamkan penglihatannya. Sedikit gelisah dan berkeluh kesah, matanya meneliti setiap sudut mencari sosok Juna.
“Udah pulang mungkin, Ran.” Kataku yang ikutan pegal melihat tingkahnya.
Ranti cemberut mendengar ucapanku, “Yah… masa udah pulang sih Junanya. Katanya mau nunggu gue di halte…”
Aku mendengus, “Dia bilangnya dari satu jam yang lalu, Ranti. Lagian kenapa gak sms atau telpon elo aja sih biar gak repot.” Sungutku. “Padahal nomor telpon udah tau, masih aja gunain orang lain sebagai media untuk menyampaikan pesan. Itu kan merepotkan orang lain jadinya. Dan, kalo emang mau barengan pulang, Juna bisa kan nyamperin elo kekelas, seperti gue nyamperin elo.” aku menoleh dan mendapati bapak-bapak setengah baya tengah memandangku dengan muka heran. Takut-takut, kusunggingkan senyum padanya lalu pergi mencari Ranti.
Disudut halte kutemukan Ranti sedang berdiri. Ia mematung. tatapannya tajam tertuju pada segerombolan siswa dan siswi yang merupakan kakak kelas mereka. Sungguh, gerombolan itu tidak terlalu istimewa bagi Ranti meski terdiri dari anak-anak popular. Hanya satu yang menjadi fokus penglihatan Ranti yaitu keberadaan Juna. Cowok hitam manis kapten basket di sekolah yang katanya ingin menunggu Ranti, nyatanya kini sedang duduk di jok motor, asyik bercengkrama bersama teman-temannya, dengan Diva –mantannya- duduk tepat disebelahnya sambil bergelayut manja.

1 comment:

roel said...

hmmm. elegi...

bagus ceritanya.