Pages

Friday, 12 July 2013

#LoveFiction: Menunggu





“Kemana aja sih?” tanyaku sambil menahan sesak serta kesal di dada.
Desah nafasnya terasa diujung telpon, “Sori… Aku baru selesai meeting sama orang dari penerbit.” Jawabnya.
“Apa segitu susahnya buat kasih kabar ke aku? Bisa kirim SMS, BBM atau WhatsApp. Gak makan waktu kok. Kalo udah tau kamu ada meeting, aku kan jadi gak senewen begini.” Cerocosku.
Disana, diujung telepon, ia hanya terdengar sedang mengatur nafas. Seperti itu terus hingga hampir lima menit lamanya. Rasanya, aku ingin meledak tapi kuperintahkan diriku untuk terus sabar.
1…
2…
3…
Ia masih diam.
Stok kesabaran dalam diriku pun kian menipis hingga akhirnya habis. Tak mempan lagi bujukan untuk terus bersabar karena mulutku lantas berkata dengan nada tinggi, “TERSERAH KAMU DEH!” lalu memutuskan telpon dan tidak me-non aktifkan hp-ku.
Kejadian diatas adalah pertengkaranku dengan Dewa, pacarku. Sudah lebih dari dua jam hal itu berlangsung, dua jam pula kumatikan hapeku hingga buatku penasaran terhadap satu hal; Apakah dia mencariku?
Karena itulah, aku buru-buru meraih hape yang kugeletakkan begitu saja diatas meja rias. Memasang kembali baterai yang kulepas dengan marah saat emosiku memuncak tadi. Menunggu dengan gemas ketika hapeku menyala.
Initializing…
Degup jantungku berdetak lebih kencang.
Memory siap, semua menu telah muncul dilayar hapeku. Mataku semakin lekat menatapnya. Menanti akan terjadi suatu getaran tanda pemberitahuan adanya panggilan tak terjawab atau pesan teks, BBM, atau WhatsApp, atau media komunikasi lainnya yang biasa kugunakan bersama Dewa.
Tapi…
1 menit…
2 menit…
3 menit…
4 menit…
Dan…
5 menit….
Smartphoneku senyap dan menjelma sebagai stupidphone. Kembali kucampakkan benda yang katanya berguna untuk alat komunikasi tersebut.
Ada perasaan sesak menyelubungi perasaanku diantara rasa-rasa lain yang tanpa diundang ikut hadir dan menambahkan bumbu-bumbu emosi. Dari semua kumpulan gejolak rasa yang entah apa namanya, seluruhnya sepakat pada satu hal yaitu, Dewa tega sekali padaku.
Tanpa terasa, air mataku meleleh. Seakan menjadi pengiring munculnya seluruh prasangka yang belum benar. Banyak sekali tanya bermunculan dipikiranku, tanpa memiliki satu pun jawaban. Kenapa Dewa berubah? Apa benar dia sibuk? Atau sibuk hanya alasannya aja padahal sebenarnya ia sudah punya pacar yang lain?
Aku tahu jika pikiran itu berlebihan, tapi sungguh semuanya muncul begitu saja tanpa mampu aku menghentikannya.
Tiba-tiba aku tersentak oleh suara khas Adam Levine yang menyanyikan lagu Makes Me Wonder. Segera kuraih hapeku, secercah harapan lalu seakan terbit untukku. Hatiku menjerit, ‘Akhirnya Dewa menghubungiku!’
Namun, asa tinggallah asa. Bukan nama Dewa yang tertera disana tetapi nama lain yang akhir-akhir ini memang intens menghubungiku, Bena.
“Ya, Ben?” suaraku serak.
“Kamu kenapa, Alya?” tanya Bena penuh perhatian.
Hatiku berdesir nyeri mendengarnya. ‘Kenapa justru Bena yang peduli terhadapku?’ pikirku.
“Aku baik-baik aja, kok. Baru bangun tidur aja makanya serak gini suaranya.” Jawabku sekenanya.
“Serius? I know you, Al… suara bangun tidurmu gak kayak gitu. Aku kan udah pernah denger, remember?”
Aku tersenyum, teringat bahwa kemarin Benalah yang membuatku bangun dari tidur sehingga aku tidak terlambat pergi ke Kampus. Bena lagi? Aku semakin nyeri…
“I am serious, Ben…” desahku.
“OK, I am trying to trust you. Gimana kalo kita keluar? Makan, nonton, atau hal lain yang menyenangkan.”
Sungguh tawaran Bena untuk pergi keluar memang sesuatu yang kubutuhkan saat ini. Hang Out dan melihat dunia luar, tentu akan membuat pikiranku teralihkan dari Dewa. Sayang, Bena datang disaat kurang tepat. Karena aku masih menanti Dewa.
“Aku gak bisa, Ben. Sebentar lagi Dewa mau datang.” Ujarku.
Ada keheningan sejenak saat kusebut nama Dewa. Bena berdeham canggung lalu dengan ketenangan yang dibuat-buat, cowok itu berkata, “Oke, mungkin next time kita bisa keluar ya, Al. See you…”
Bena mematikan telponnya. Membuat hening kembali menyelimuti keseluruhan kamarku hingga prasangka negative yang tadi sempat hilang muncul lagi. Aku berusaha menepisnya, meyakinkan diriku jika memang saat ini Dewa sedang sibuk. Menghibur dengan pikiran bahwa ia sedang mencari celah untuk bisa menghubungi. Kuseka air mataku.
Penipuan ini sungguh melelahkan.
“Tetaplah bersamaku… jadi teman hidupku… bersama kita hadapi dunia…”
Mendengar suara Tulus yang menyanyikan lagu Teman Hidup, telingaku serta merta menegak. Seperti telinga seekor kucing yang waspada tatkala telinganya mendapati langkah anjing mendekat. Sikap tubuhku menjadi siaga dan sigap mencari asal suara.
‘Handphone! Handphone! Handphone!’ Hatiku menjerit-jerit panik.
Ketemu!
Kupandangi lekat-lekat layar handphoneku, tak mempercayai ID Caller yang tertera disana.
Dewa.
Sekali lagi.
DEWA.
Ya, DEWA-ku!
Kuhitung dalam hati sampai tiga baru kutekan tombol ‘Yes’ dan, suara parau milik Dewa langsung memenuhi gendang telingaku.
“Kamu udah tidur?” tanyanya lembut membuat gunung es yang sempat tercipta diperasaanku perlahan melumer.
“Belum.”
“Kamu keluar dong. Aku udah didepan.”
Tengkukku meremang. “Didepan mana?” tanyaku memastikan.
“Depan rumah kamu… kesini ya…”
Seperti orang gila, tanpa peduli pada penampilanku yang sudah pasti berantakan, aku menghambur keluar rumah. Disanalah, diantara gelapnya malam dan keremangan lampu yang menerangi jalan, Dewa berdiri disamping mobil starlet tua miliknya. Perlahan sekali, aku berjalan mendekatinya.
Kini, kami sudah berhadapan. Tinggiku yang hanya mencapai dada Dewa, membuatku harus menengadah untuk melihat exspresi wajahnya. Lantas, aku terkesiap ketika tangan dinginnya menyentuh wajahku. Lembut, ia mengusap dahiku, kemudian mengecupnya.
“Maafin aku…” pintanya. Ditariknya aku hingga berada dalam pelukannya. “Hari ini, ditanggal 13 ini, tepat di tahun kedua kita sama-sama, aku penuhi janjiku untuk menerbitkan sebuah buku yang aku persembahkan buat kamu.” Ia merogoh tasnya. “Dan, berhubung contoh bukunya dibawa editor dan penerbitku, sebagai buktinya aku kasih ini aja ya.”
Dewa melepaskan pelukannya dan menyerahkan sebuah amplop padaku. Meski bingung, kuterima amplop coklat tersebut, membukanya dan kemudian membaca tulisan yang ternyata merupakan surat perjanjian penerbitan buku antara Dewa dan penerbitnya. Tiba-tiba saja rasa bersalah menghinggapiku.
“Maafin aku ya…” ujarku.
“Maaf untuk apa?” Dewa bingung.
“Aku udah berpikir negative ke kamu.”
Cowok itu tersenyum, “Kamu gak mungkin berpikir seperti itu kalau gak ada sebabnya. Aku paham, kok. Tapi kamu perlu tau bahwa aku juga gak tenang kalau gak ngehubungin kamu. Tadi aja rasanya aku gatal pengen kirim pesan buat kamu atau nelpon kamu. Cuma, karena aku mau kasih kejutan akhirnya aku tahan-tahanin deh buat gak kontak kamu dulu. Ingat ya, aku sayang banget sama kamu dan aku susah untuk ngubahnya. Jadi, buang jauh-jauh pikiran negative kamu ya…”
Ia memelukku lagi dan meluruhkan segala keraguan yang sempat hinggap.

Bulan Ramadhan Kali Ini



Sudah lama sekali saya gak meluangkan waktu untuk menengok blog ini. Kangen banget rasanya menghabiskan waktu dirumah hanya sekedar blogging sambil menghabiskan bercangkir-cangkir teh manis dengan tampang kusut karena gak mandi seharian. Waktu memang cepat sekali berlalu dan berganti. Menjadi semua hal yang terlewati tampak seperti mimpi. Seperti sekarang... Seakan mimpi banget menjalani hari pertama puasa ditempat berbeda dengan orang tua dan adik-adik. Padahal tahun-tahun sebelumnya selalu dilalui bersama mereka.

Rasanya?

Hampa, sedih,sekaligus senang silih berganti hadir.

Hampa, tentu aja melewati dini di kosan yang sepi hanya ditemani televisi. Gak ada orang yang bisa diajak ngobrol atau bercanda. Emang sih, Ibu rutin menelpon tiap jam 4 pagi buat ngecek saya udah bangun atau belum. Tapi, tetap saja rasanya beda kalo dibandingkan berada dengan satu atap bersama mereka.

Sedih, semua orang menyambut ramadhan ditengah-tengah keluarga mereka masing-masing. Dulu, saya menjadi bagian dari orang-orang tersebut. Kini? Well, malam menjelang ramadhan pun saya masih ada ditempat kerja.

Senang, setidaknya saya ketemu lagi dengan ramadhan. Itung-itung masih mendapat kesempatan 'membersihkan' diri dan keluarga saya masih lengkap. Serta, perbedaan yang terjadi di tahun ini buat saya seperti kemajuan tersendiri. Well, tahun ini dengan semua hal yang terjadi tentu akan menempa diri saya menjadi sosok yang lebih mandiri lagi. Dan, mampu mengenali dunia serta lebih memahami semua pengorbanan yang orang tua saya lalukan.

Jadi, mari kita laksanakan puasa dan mendapatkan hikmah serta keberkahan yang melimpah. Semoga di bulan ramadhan kali ini kita mendapatkan pahala serta jawaban atas pertanyaan hidup yang menggema. Dan, cari kebaikan di bulan suci ini sebanyak-banyaknya.

Cheers :)

Wednesday, 15 May 2013

#LoveFiction: Malam (Yang Mereka Butuhkan)



Asa
Dinginnya angin malam yang bertiup lembut tidak serta merta membuat surut semangat  dua gadis itu. Tangan mereka tetap sibuk mencuci pakaian-pakaian kotor milik mereka masing-masing. Sementara mulut dan pikiran mereka keluar menembus seluruh batasan dinding kosan.
“Ello adalah salah satu alasan gue buat keluar dari Tasik. Kalau tetap disana, gue akan sulit move on.” cerita Fairy.
“Dan, setelah lo ada di Tangerang, akhirnya berhasil move on?” Tanya Luna sambil mengorek-ngorek noda kering yang menempel dikerah kemejanya.
Fairy mendesah. Tangannya memilin-milin baju seragam kerjanya. Dengan mata yang menatap jauh keangkasa, ia berkata lirih, “Engga…”
Hening sejenak tercipta.
“Disini pun, tiap gue dekat sama cowok secara gak sadar pasti gue membanding-bandingkan mereka dengan Ello. Otak gue masih ngerekam dengan baik Ello seperti ini, seperti itu, yang secara otomatis bakal tersetel ulang waktu gue nge-date sama gebetan baru gue. Alhasil, sampai sekarang gue masih belum bisa menjalin hubungan lagi…” Fairy menghela nafas dalam-dalam. “Itu salah, gue paham.”
“Apa yang ngebuat lo kayak gini sih, Fa?” Tanya Luna. “Maksud gue… sehebat apa sih Ello sampai lo sulit banget buat cari pengganti dia?”
Fairy tersenyum, “Ello memang gak sehebat itu kok, Lun. Ada satu hal yang mengganjal hati gue. Ini seperti dendam, tapi bukan dendam. Lo paham gak maksud gue?” matanya menatap Luna sekilas. Dilihatnya gadis hitam manis itu menganggukkan kepala, ia pun melanjutkan, “Gue ingin ketemu Ello lagi… Bukan untuk ngajak dia balikan. Tapi, supaya dia tau dengan mata kepalanya sendiri, bahwa biar pun gue putus sama dia, gue tetap baik-baik aja bahkan jadi lebih baik dari sebelumnya. Gue pengen nunjukin itu, Lun…”
***
Pulang
Entah kali keberapa aku melirik arloji yang melingkari pergelangan tanganku dengan manis. Pukul 20.30 Wib. Aku menguap lagi. Hari sangat melelahkan untukku. Terlebih, aku harus melalui perjalanan panjang ini. Melewati lagi daerah yang telah lama aku tidak kulewati.
“Mas Ridwan padahal sore tadi masih baik-baik aja, May. Dia masih bisa main sama anak-anak. Bantuin gue beresin rumah, tapi tiba-tiba kondisinya drop.” Isak seorang perempuan bernama Irena. Tangannya meremas-remas sapu tangan merah muda untuk menahan gejolak emosinya. “Gue kira cuma sakit biasa tapi dokter gak ngebolehin dia pulang, May… bahkan harus masuk ICU…”
Maya meraih tangan Irena. Diusapnya punggung tangan perempuan itu penuh rasa simpati. “Sabar ya, Ren… Elo harus kuat biar anak dan suami lo juga kuat ngadepin ini semua.” Ujarnya.
“Gue bingung biayanya, Maya… Sehari di ICU itu mahal. Biayanya gue gak sanggup… rasanya pengen gue bawa pulang aja suami gue…” Irena menyusut air matanya yang berjatuhan semakin deras. Bibirnya bergetar hebat.
“Istigfar Iren… banyak orang yang cari ruang ICU susah. Suami lo udah dapet ICU disini, ngapain lo bawa pulang? Pikirin kesembuhan suami lo, Ren… Rejeki insya allah, masih bisa lo cari. Lo mau suami lo sembuhkan?”
“Iyalah Maya… gue belum siap kehilangan Mas Ridwan…”
Kemudian isak tangis Irena mewarnai ruang pendaftaran yang sedang sunyi. Aku dan Maya saling tatap, sama-sama tak mengerti harus bagaimana menenangkan Irena. Serta satu hal kenyataan mengerikan menyusup ke pikiranku.
Bahwa, detik berikutnya mengenai sehat-sakit serta hidup-matinya seseorang, tidak pernah ada yang mengetahui…
Dan, malam itu aku mulai menyadari jika sudah beberapa bulan ini aku belum pulang. Padahal jarak antara rumah orang tuaku dan tempat kosku tidak begitu jauh. Hanya berjarak dua jam, namun aku lebih asyik dengan kehidupan pribadiku. Padahal, orang tuaku sudah tidak muda lagi… padahal sewaktu-waktu banyak hal yang bisa mengancam kebersamaan kami… padahal begitu banyak cinta dan kasih yang belum kusampaikan pada mereka.
Dalam hati kuberharap agar lekas tiba dirumah untuk memeluk mereka…
***
Keputusan Besar
19.30
Ia menatap cemas pada mata penuh tanya dihadapannya. Sepuluh detik berlalu setelah dari bibirnya meluncukan sebuah pertanyaan, “Kapan kita menikah?” yang kini seakan mengunci mulutnya untuk bicara.
Mata itu mengerjap cepat, seakan baru terbangun dari tidur lama.
“Maksudnya sayang?”
Ina, yang mengajukan tanya mendesah kesal. “Kamu umur berapa sih?! Masa mencerna pertanyaan segitu gamblangnya aja gak bisa!”
“Bukan begitu sayang… aku gak ngerti deh kenapa tiba-tiba kamu tanya hal itu?” Albi mengusap wajahnya. Benaknya menghitung tanggal terakhir kekasihnya tersebut mengalami PMS. Ia ingat, baru minggu kemarin. ‘Masa udah PMS lagi, sih?’ desahnya.
“Karena, udah dari SMP kita kenal. Karena, udah dari SMA kita pacaran. Karena, sekarang usia kita udah lebih dari 25 tahun. Karena, aku mau tau, hubungan ini akan dibawa kemana. Karena, aku udah gak mau lagi buang-buang waktu untuk sesuatu hal yang gak pasti.”
“Bagi kamu, sekarang ini kita lagi buang-buang waktu? Aku sedang mempersiapkan semua untuk kita sayang… bisa gak kamu bersabar sedikit?”
“Menurut kamu, selama ini aku gak sabar?! Udah berapa kali kamu nunda pernikahan kita?” Ina mengibaskan anak rambutnya yang menutupi dahi, “Well, maksud aku, RENCANA PERNIKAHAN. Kamu tau? Dengan janji-janji itu, aku bisa bosan dan gak menganggap kata-kata kamu lagi!”
Albi menyandarkan punggungnya, “Na, aku juga capek kalo terus-terusan kamu cecar dengan hal itu…”
“Ya udah kalo kamu capek. We are over now!”
Albi menegakkan posisi tubuhnya, “Tapi, Na, kita…”
“Gak ada kita lagi.”
Ina berbalik dan keluar dari café. Albi termenung melihat gadisnya, atau mantan gadisnya yang berjalan semakin menjauh. Dari sakunya ia mengeluarkan sebuah kotak berisi cincin.
“I just need a time for asking you to be my wife, Na… It just about a time…” lirihnya sambil memandangi cincin itu.
***
Beres sudah tugasku merangkum cerita malam ini. Hari sudah semakin larut dan aku harus segera kembali menuju dunia para dewi malam karena dewi pagi akan menggantikan tugas kami. Satu kesimpulanku untuk hari ini, kadang manusia butuh kesempatan serta keberanian demi meraih keinginan mereka.
Salam,
Diosha de la Noche