Pages

Friday, 25 January 2013

KERETA MALAM



Stasiun Rawabuntu, 20.30
“Kamu udah beli tiketnya?” tanyanya seraya menghampiriku dan duduk tepat disampingku. Tangan kanannya menyorongkan sebotol minuman kearahku.
“Udah, kereta terakhir kayak biasanya.” Jawabku sambil menerima botol minumnya. Aku tak lantas meminum isi dari minuman berperisa teh tersebut. Aku justru memainkannya di tanganku. “Besok kamu jadi?”
Dia menyunggingkan senyum, “Kamu tau sendiri, Chik, aku udah pegang tiketnya. Gak mungkin diundur lagi.” Ia menghela nafas, “Lagian…” kata-katanya terhenti. Aku menanti sambil memandangi wajah putihnya yang kini terlihat kecoklatan.
“Lagian?” desakku.
Jemarinya menarik jari-jari kurusku, digenggamnya erat. “Semakin ditunda, aku semakin gak ingin pergi. Kamu tahu sendiri, aku harus pulang.”
Hening menyelimuti kami. Udara malam yang menguarkan aroma tanah sehabis hujan semakin menyesakkan rasa kami yang tak singkron pada nyata. Jemari kami semakin kuat bertaut, mengisyaratkan rasa yang tak mudah diungkap kata.
“Kamu harus balik ke sini lagi. Aku tunggu…” mulaiku dengan suara bergetar.
Cowok disampingku menoleh. Tangannya memegang daguku lalu mengarahkannya hingga kami saling menatap.
“Chika, tapi aku gak tahu kapan bisa balik ke sini lagi. Malah mungkin enggak balik. Kamu pahamkan kalo aku harus terusin bisnis Papaku di Sintang?”
Aku menggigit bibir bawahku kencang. Berliter-liter air yang terproduksi di belakang bola mataku mendesak ingin keluar. Aku mati-matian menahannya. Sungguh, aku tak ingin menangis dihadapan dia…
“Sempetin Dion…” pintaku. “Atau kalo emang kamu gak bisa, tolong bilang sama aku sekarang bahwa aku harus berhenti seperti ini ke kamu. Supaya aku menghentikan semua kegilaanku sama kamu. Tolong Di… aku butuh itu untuk ngebenci kamu…”
Dion merangkul bahuku, “Sungguh, saat ini yang aku mau hanya bersama kamu, Chik. Gak tau sampe kapan…” dikecupnya keningku.
“Pengumuman, kereta api commuter line tujuan akhir tanah abang akan segera tiba di Peron satu.”
“Ini kereta yang mau kamu naikin, Chik?” tanya Dion. Tangannya membebaskan bahuku dari rangkulannya.
“Iya.” Aku menarik lagi tangan Dion. Menggenggamnya dan mengamatinya, mungkin untuk yang terakhir kali.
Tangan kanan Dion yang bebas mengacak-acak rambutku. “Besok kalo harus nunggu kereta sendirian, kamu gak usah kangen aku ya…” pesannya sambil menyunggingkan senyum.
Well, aku gak bakal kangen. Paling mataku iseng noleh kesamping terus.” Jawabku nyengir.
Dion terkekeh dan mendorong kepalaku lembut. “Dasar sakit jiwa.” Ledeknya.
Tak berapa lama kemudian dari kejauhan tampak lampu kereta commuter line menyoroti tempatku dan Dion duduk. disusul dengan pengumuman jika kereta tujuan akhir Stasiun Tanah Abang sudah datang.
“This is the time… I have to go home.” Lirihku menatap Dion.
Dia memegangi tanganku, “Hati-hati, ya. Sms aku kalo udah sampe.” Pesannya.
Kuarahkan tangan Dion ke dahiku. Kebiasaanku ketika akan berpisah dengannya. Kemudian berlari kedalam kereta yang tak terlalu penuh oleh penumpang. Pintu otomatis kereta mulai menutup dan kaleng mahal ini perlahan melaju meninggalkan stasiun Rawabuntu. Mataku masih bersitatap dengan mata sayu Dion hingga kemudian sosok yang kusayangi itu berbalik dan menyisakan punggungnya untuk mataku. Aku masih terus memandangi tempat Dion berdiri hingga tak bisa kulihat lagi.
Kereta melaju semakin cepat, membawaku menjauh dari Dion. Kupejamkan mata, memohon dalam hati pada Tuhan supaya akan ada lagi masa dimana aku bisa menemukan senyum dan lambaian tangan Dion di luar kereta.
Semoga…

Tuesday, 22 January 2013

Menggapai Cita-Cita

Setiap orang punya cita-cita tentunya dan memiliki cara masing-masing untuk menggapainya jadi nyata. Sejak beberapa tahun lalu, setelah menyadari betapa "pelupanya" saya sehingga sering cita-cita itu hanya sekedar menjadi bualan. Maka, saya tuliskan hal yang saya jadikan impian di dinding kamar. Di salah satu sudut terdekat dengan tempat saya berbaring. Jadi, ketika saya bangun tidur atau sebelum tidur, saya bisa membaca coretan-coretan itu. 

Kedengarannya mungkin sederhana atau agak gila, namun efek dari membaca mimpi-mimpi yang kita tulis adalah akan membuat kita selalu teringat. Gak cuma teringat, tapi juga akan meresap hingga kealam bawah sadar, lalu seakan menghipnotis tiap langkah kita untuk mendekat pada mimpi-mimpi itu.

Well, kalau menganggap ini hanya omong kosong, saya bisa jamin jika hal ini tidak. Karena, sebelum saya membuat tulisan ini, saya telah terlebih dulu mencobanya. Dan, betapa bersyukurnya saya ketika menatap tulisan-tulisan di dinding kamar yang mulai keluar dari kepompong mimpi dan berubah menjadi nyata.

Mari, kita bersama-sama hampiri mimpi supaya jadi nyata :D

Saturday, 12 January 2013

PUSAR

Penasaran sekaligus bingung tiap saya bercermin dan memandangi satu bagian tubuh yang sering disebut sebagai Pusar. Iya bingung, karena memikirkan apa sebenarnya fungsi benda satu itu selain menjadi penghubung antara Ibu dan bayinya selama masa dalam kandungan.

Ibu saya pernah marah, ketika dia melihat saya yang membersihkan pusar. Katanya, kalo dibersihkan nanti bisa bikin bolak-balik pipis. Saya nurut sambil mengerutkan kening, apa hubungannya? tanya saya dalam hati.

Maka, dengan rasa penasaran yang semakin memuncak, serta karena pertanyaan saya tidak diberikan jawaban yang memuaskan oleh teman saya, akhirnya saya menggantung harapan pada Eyan Google tercinta. Dimulailah pencarian suci, dengan niat tulus murni agar lebih dapat menghargai bagian tubuh itu, saya terlusuri penjelasan mengenai Pusar yang ada.

Bagi yang tidak tahu pusar apa sekaligus saya percaya semua pasti tahu, silahkan angkat pakaian anda dan lihat ada sesuatu menyerupai cekungan mengkerut seperti yang sering kita dapatkan diujung balon setelah diikat. Itulah Pusar. Disadari atau tidak, letak Pusar berada tepat ditengah-tengah tubuh sehingga sering dijadikan patokan dalam menemukan serat otot dalam melakukan pembedahan.

Secara langsung, dalam proses metabolisme, Pusar memang tidak memiliki peran langsung. Namun, Pusar sebagai pengatur elemen api didalam tubuh, atau lebih halus dijelaskan sebagai pengatur pergerakan hormon panas tubuh mengatur kelenjar pankreas dan adrenal, mengatur organ hati, kantung empedu dan lambung. Selain itu, Pusar juga merupakan titik tumpu kekuatan tubuh kita. Selalu, kita akan mengencangkan otot perut ketika akan mengangkat beban berat. Kontraksi tersebut memiliki kaitan dengan Pusar.

Tepat dibagian bawah Pusar kita adalah perut yang melupakan elemen air atau dingin dalam tubuh. Mengatur fungsi ginjal, air, dan hormon dalam tubuh. Hal ini menyebabkan bila Pusar kita lemah, maka panas didalam tubuh akan kalah dengan unsur air sehingga berbahaya dan dapat mengakibatkan kita menderita panas dalam. Lemahnya pusar juga dapat menyebabkan darah menjadi dingin sehingga mudah membeku.

Sebuah fakta mencengangkan dari hasil penelusuran saya di Google atau karena memang saya tidak tahu makanya tercengang, fakta itu mengatakan bahwa Pusar merupakan pusat dari keberanian kita. Strees, rasa takut, mual ketika akan kepentas, demam panggung, grogi saat ketemu gebetan atau mantan pacar, merupakan reaksi-reaksi yang terjadi akibat respon yang diberikan pusar. Katanya, Pusar yang lemah dapat mempengaruhi sikap penakut kita, atau sebaliknya karena penakut, Pusar cenderung menjadi lemah.

Dari sekelumit bacaan yang saya dapatkan, kita sama-sama dapat mengambil kesimpulan bila Pusar meski bentuknya tidak seelok bagian tubuh lain, memiliki fungsi yang sama vitalnya dengan bagian tubuh lain. Maka, jangan sepelekan keberadaan Pusar. Jagalah Pusar anda dengan baik, dengan tidak membersihkannya, menindiknya, dan menjaganya untuk tetap hangat.

Thursday, 10 January 2013

Seharusnya Cinta

Kalau kita bicara tentang cinta, tentang aktivitas orang-orang berpacaran, maka kita akan menemukan sebuah fase yang dinamakan pendekatan. Masa itu merupakan masa-masa di mana kita menyelami karakter, mencari tahu, penuh tanya, harap-harap, kecemasan, kesabaran sekaligus ketidaksabaran, tentang satu kata: RASA.

Ada berbagai rasa berkecamuk muncul dalam diri; bagaimana perasaan dia?; apa artinya semua perhatian dia?; kenapa dia jadi baik?; hingga lahir pula pertanyaan tidak normal diatas pertanyaan normal itu; kenapa dia putus sama pacar sebelumnya?; Bagaimana dulu mereka pacaran?; dan yang paling norak namun menjadi yang sekaligus hinggap dipikiran adalah; Siapa mantannya dan siapa yang lebih baik secara fisiknya?

Helaan nafas lega, untaian kata manis penuh syukur, wajah-wajah ceria, kepercayaan diri yang secar ajaib kembali tumbuh begitu saja ketika kita tahu bahwa mantannya lebih kurang menarik fisiknya (menghindari berkata 'jelek') dibanding kita. Berbanding terbalik jika kita mengetahui mantannya ternyata jauh lebih cantik/ganteng, lebih fashionabel, lebih modis, lebih gaul, lebih menarik, serta lebih-lebih lainnya. Kalo begini, bukan lega yang ada, bukan syukur yang terucap, buat wajah ceria yang ada, dan bukan kepercayaan diri yang secara ajaib tumbuh, melainkan; kepanikan, merutuki diri 'kenapa gak tau diri' atau 'kenapa jelek' dll, wajah kusut, dan rasa percaya diri yang turun drastis, bahkan melempem, bahkan tenggelam.

Pikiran mulai disibukkan dengan berbagai kecurigaan tak perlu, dengan kejamnya melabeli diri sebagai sosok paling tak menarik diseluruh dunia, mematahkan jutaan kalimat positif yang sering digaungkan oleh para motivator bahwa cinta sejati tidak melihat dari fisik, berkata dan berpikir bahwa dirinya sendiri tidak mendampingi siapapun yang ada di dunia ini, sibuk memikirkan pendapat orang lain tentang kekurangan kita, hingga melupakan tiap jengkal kelebihan di diri yang PASTI dimiliki.

Ya, manusia sering menjadi terlalu kejam pada dirinya ketika menemukan kenyataan yang tidak seindah dugaannya. Ketidakmampuan atau ketidakmauan bersaing dengan mantan pacarnya gebetan apalagi di hal fisik, membuat pikiran kita mendadak sempit bahkan untuk siapapun di luar sana yang mengagungkan logika. Memang, jenis manusia yang bisa dan lebih sering melakukan tindakan kejam ini adalah dan tidak lain: PEREMPUAN.

Mereka seakan terlupa tentang haknya berbahagia, menikmati cinta, dan menjadi cantik cuma karena punya saingan yang lebih cantik, lebih keren, lebih gaul, lebih modis dan lebih-lebih lainnya dalam mendapatkan gebetan, atau mantan si gebetan yang emang cantik luar binasa (luar biasa, I mean :p).

Jujur, menurut saya, hal itu merupakan tindakan kejam yang pernah dilakukan seorang manusia pada dirinya sendiri. Tentu saja, gimana orang lain bisa menghargai kita, bisa memperlakukan kita dengan baik, kalau kita sendiri justru menghina? Serta, kenapa masalah mantan yang lebih baik secara fisik harus dijadikan masalah? Mereka itu masa lalu, dan kita bisa menjadi masa depan dia dengan tidak hanya fisik yang lebih baik namun juga sikap dan cara memperlakukan si gebetan.

Tindakan itu juga menunjukkan jika kita sebagai manusia kurang bersyukur.  Karena, kalo kita semua diam sejenak untuk berpikir, tentulah kenyataan bahwa diluar sana masih banyak orang dengan segala kekurangan mereka dalam hal fisik dapat diterima dengan baik oleh lawan jenis. Lantas, kenapa kita malah merendahkan diri?

Saya teringat suatu perjalanan kecil menuju Serang, di mana saya pergi menggunakan kereta butut ekonomi seharga Rp. 1500. Saya memang terbiasa naik kereta tersebut, hanya saja belum pernah kalau pergi menuju Serang. Banyak sekali hal yang menarik mata saya di sana, bagaimana pedagang yang rata-rata pria menjual sesuatu yang biasa ditangani wanita seperti menjual minuman, makanan, hingga aksesoris. Tapi, sesuatu yang paling menarik hadir dari sepasang yang saya duga adalah suami istri. Mereka masih muda dengan dandangan yang menurut saya, jauh dari kata trendi. Sang pria yang gagah memiliki wajah seperti almarhum Benyamin, mengenakan kemeja yang dipadu celana berpotongan cut bray, tidak ketinggalan sebuah sabuk dengan hiasan kepala melingkar dipinggangnya. Total, dia terlihat seperti Benyamin yang hidup kembali, bedanya hanya terletak di giginya yang rada maju. Sang wanita, berkulit putih kontras dengan kulit suaminya yang hitam. Wajahnya manis, khas wanita sunda, rambutnya keriting halus. Ia menaburkan sedikit bedak di wajah dan lipstik merah tapi tak menyolok di bibir, duduk anteng disebelah suami. Jari mereka dihiasi cincin serupa. Cincin nikah pastinya, pikirku.

Disekitar mereka duduk, terhampar berbagai hasil panen beberapa tandan pisang, beberapa tandan singkong, dan entah apa yang dimasukkan kedalam karung-karung. Tampaknya, mereka akan pulang kampung. 

Dengan itu semua, dengan segala asumsi di otak saya tentang kehidupan mereka yang dekat dengan kata sederhana, dan bersama kenyataan si istri memiliki suami berwajah 'purba', keduanya memancarkan sinar kebahagiaan di wajah masing-masing. Saya tidak tahu pasti apa yang menyebabkan mereka bahagia, yang saya tahu adalah bagaimana si istri yang cukup cantik duduk manis, nyaman, dan bahagia disebelah suaminya. 

Well, pikiran iseng saya berkata, si wanita tentunya bisa mendapatkan pasangan/suami yang lebih baik, wajahnya, ketimbang suaminya. Tapi lantas, pikiran saya seperti ditendang oleh pikiran lain bahwa hidup, bahwa pasangan, bahwa kebahagiaan tidak diukur dengan bagaimana cantik/tampannya dirimu, bagaimana cantik/tampannya pasanganmu, namun tentang bagaimana kalian bisa mengisikan cinta ditiap harinya. Cinta yang tulus tanpa tendensi apapun...

Hari itu saya belajar tentang sesuatu yang terus saya pupuk hingga sekarang. Mengenai bagaimana kita menerima dan mencintai pasangan beserta keseluruhan dirinya, bukan karena penampilan fisik yang lebih sering menipu dan memanipulasi lewat kamuflase serta kemayaan semata.

Saturday, 5 January 2013

Cold Play: FIX YOU

When you try your best, but you don't succeed 
When you get what you want, but not what you need 
When you feel so tired, but you can't sleep
 Stuck in reverse 

When the tears come streaming down your face 
When you lose something you can't replace 
When you love someone, but it goes to waste
 Could it be worse?

Lights will guide you home 
And ignite your bones 
 And I will try to fix you
High up above or down below 
When you too in love to let it go
 If you never try you will never know
 Just what your worth

Lights will guide you home 
And ignite your bones 
And I will try to fix you

Tears stream down your face 
When you lose something you cannot replace 
Tears stream down on your face 
And I..

Tears stream down your face 
I promise you I will learn from my mistakes 
Tears stream down on your face
 And I..

Lights will guide you home 
And ignite your bones
 And I will try to fix you.

Thursday, 3 January 2013

Sebuah Kabupaten Bernama Krayan

Sore ini sekitar pukul 5 sore, saya menonton sebuah acara yang bagus sekali di +TRANS 7 bertajuk Indonesiaku. Di episode kali ini, Indonesiaku membahas tentang sebuah daerah perbatasan Indonesia dengan Serawak, Malaysia yang bernama Krayan.
sebuah desa di Krayan

Krayan adalah bagian dari negara Indonesia yang merupakan bagian dari kecamatan Nunukan, Kalimantan Timur dimana penduduknya merupakan Suku Dayak asli Kalimantan yakni Suku Dayak Lundayeh. Ada banyak hal yang membuat saya tersentil atas tayangan ini. 
wanita dayak lundayeh


Pertama, kondisi jalanan di Krayan yang luar biasa banget. Tanpa aspal, hanya jalanan tanah merah yang begitu becek dan tentu saja, kotor. Kita gak akan menemukan bangunan megah seperti Mall, gedung perkantoran, pusat perbelanjaan yang biasa kita temui di Jawa dan Jakarta. Hanya semak, pohon-pohon, serta alang-alang yang jadi penghias dan pemandangan disepanjang jalan. 
salah satu sudut jalanan krayan. (luar biasa bgt!)


Kedua, penduduk di Krayan terbiasa 'mengisi' perut mereka dengan produk dari Malaysia karena sulitnya akses menuju Indonesia. Barang-barang yang dijual di 'warung-warung merupakan produk asal Malaysia. Macam-macam deh, mulai dari snack, biskuit, hingga GAS dan AIR MINERAL. Sementara pemerintah di sini sibuk banget melakukan konversi dari kompor minyak ke kompor gas, saudara-saudara kita TERNYATA tidak mendapatkan ELPIJI namun Shell seharga Rp. 250.000 per tabung gas 14kg. Sekali lagi, produk Malaysia.

Ketiga, alat transportasi. Saking gak adanya akses dari Krayan ke Indonesia, untuk distribusi mobil pun gak memadai. Maka, penduduk di Krayan terpaksa membeli mobil bekas dari Malaysia buat mobilisasi mereka sehari-hari. Karena kendaraan tersebut masuk dalam kategori ilegal, jadi gak ada pajak kendaraan di Krayan. Platnya aja bukan KT tapi L, hehehehe.

Keempat. Krayan merupakan penghasil beras organik terbaik se-Kalimantan Timur. Sayangnya, beras-beras tersebut hanya dapat dinikmati oleh kalangan tertentu saja. Yaitu, kalangan penduduk Krayan sendiri dan tempat mereka menjual beras tersebut, Malaysia dan Brunei (iya, kita gak kebagian icip-icip, hiks). Sekali lagi, semua itu terjadi karena tidak adanya akses bagi Krayan ke Indonesia.

Ironis banget bukan. Bagaimana kita dengan mudahnya mendapatkan segala keperluan dari negara sendiri tapi tetep dengan rajinnya menghujat pemerintah serta menuntut ini dan itu sehingga sahabat-sahabat kita di sebuah pelosok antah berantah harus rela terbelakangi demi pemerintah memenuhi tuntutan kita. Dan mereka, untuk masuk wilayah negaranya sendiri aja susah. Hingga terkenallah sebuah anekdot yang miris:

'Garuda di dadaku, Malaysia di perutku.'

Gak berlebihan deh kalo saya bilang, masyarakat Indonesia Timur itu tangguh-tangguh :')


Tuesday, 1 January 2013

SENJA

Kamu berdiri di sana
Sungguh kamu, bukan sekedar bayang-bayang
Aku mengambil tempat di sisi kirimu
Mendekatlah
dan
Peluk aku
Erat

Pasir pantai nan putih
Penuh buih
Biarkan ia menghampiri dan basahi kaki kita
Bantu hapuskan waktu yang berlalu
waktumu
waktuku
Membawa pergi pasir lalu
dan
Tukarkan yang baru
Di sana, tertera tulisan yang kubaca sebagai
KITA

Erat,
Angin senja di tepi pantai kita
Hadirkan dingin hingga menusuk jiwa
Kau, bawaku semakin dalam kepelukmu...

Matahari muda telah lama menyinari kita
Jingga warnanya
Kutatap wajahmu,
Keriput-keriput halus terhias di sana
Pun, pada wajahku, ucapmu
Lalu, kau mendekat
Aromamu terasa pekat
Bibirmu kemudian memagut bibirku lembut
Matahari hampir tenggelam
"Kita tua bersama..."
bisikmu perlahan