Pages

Friday, 22 March 2013

Cinta Sang Penggambar Sketsa



‘Tiada kata yang ungkapkan rasa keduanya, namun cinta itu terasa lewat sketsa yang seakan menggantikan puisi romansa.’
**
“Eh ada Karin…”
Gadis yang bernama Karin menoleh, matanya mendapati sosok cowok yang tingginya hanya melebihi tinggi tubuhnya beberapa senti saja sedang tersenyum padanya. Bukan pertanda baik, batin Karin ketika melihat senyumnya.
“Masih hidup aja, sih.” Lanjut cowok itu.
Benar saja dugaan Karin. Meski awal sapaannya terdengar manis, ujungnya pasti ada aja kalimat jahil yang ditujukan padanya. Karin mendengus, ia tidak marah. Telinganya telah terlatih dengan baik untuk mendengar sapaan bernada sinis itu. Terutama dari cowok berambut jigrak seperti tokoh Saint Saiya tersebut.
“Lo juga kenapa masih ada sih di dunia ini? Bosen yang dilihat elo lagi, elo lagi.” Balas Karin tak kalah pedas.
“Malaikatnya belum mau jemput kakak, Rin. Kakak terlalu berharga untuk mereka bawa ke akhirat sekarang-sekarang ini.” jawab cowok itu percaya diri. Tidak ketinggalan senyum jahil khasnya yang juga terkembang.
Karin mengibas rambutnya, memicingkan mata, dan menatap cowok itu dari atas ke bawah. Seakan menelanjanginya. Tanpa Karin tau, cara pandanngya pada cowok itu membuat yang bersangkutan jadi salah tingkah.
“Kemarin malaikatnya bilang sama Karin, mereka masih tahan kakak didunia supaya orang-orang yang sering kakak isengin punya kesempatan buat balas dendam.” Setelah menyelesaikan kalimatnya, gadis berambut ikal itu melenggang pergi. Tinggallah cowok itu menatap punggungnya lekat-lekat hingga Karin menghilang diantara keramaian.
**
Gedung Perpustakaan Kampus Biru, lantai 2.
Semilir angin diluar gedung perpustakaan yang memainkan rumpun bambu hingga berguguran terlihat jelas di mata Juna. Jelas saja, gedung perpustakaan ini memang didominasi oleh kaca sehingga tampak seperti akuarium raksasa dan memudahkan pengunjungnya menatap keluar.
Tapi bukan guguran rumpun bambu yang terbang dimainkan angin membuat Juna melupakan buku Asuhan Keperawatan yang seharusnya ia baca. Namun sosok yang baru saja lewat dengan langkah santai menuju kantin, Karin.
“Karin…” lirihnya.
Sebuah getaran aneh tercipta menelusupi area yang orang sebut sebagai hati. Membuatnya harus menghembuskan nafas berkali-kali supaya rasa getar itu hilang. Sungguh, Juna bukan membenci Karin, ia hanya tidak suka pada rindu yang tercipta setiap sosok itu hadir dipikirannya.
Rindu?
Seperti itukah definisi atas getaran aneh yang selalu ia rasakan jika mengingat Karin? Semelekat itukah gadis itu dipikiran serta hatinya?
Ah, Juna sendiri baru menyadari itu semua belakangan ini. Ketika matanya kembali menatap Karin, melihat punggungnya dari jauh, menikmati senyumnya yang khas, dan mendengar ocehan pedasnya yang sering membuat Juna sendiri skat mat untuk membalas.
Karena itulah, untuk membunuh getar aneh yang baru saja ia ketahui bernama rindu, Juna sering menghabiskan waktu sorenya dengan berdiam di perpustakaan. Kebiasaan yang bukan Juna banget, sampai teman-temannya curiga atas perubahan sikapnya. Tapi Juna tak peduli, memiliki waktu sendiri disudut perpustakaan, menatap hingga ke kantin dan menemukan sosok lincah Karin disana, akan meredakan kerinduannya.
Dan, rindu itu akan tertuntaskan jika ia telah memindahkan Karin dari benaknya ke salah satu halaman buku sketsa yang selalu ada ditasnya.
**
Kantin, Kampus Biru.
Beberapa tetes chococino mengotori meja kantin yang dilapisi plastik putih untuk menutupi permukaannya. Dengan selembar tissue, Karin membersihkannya hingga bersih.
“Neng Karin mah kebiasaan banget numpahin minuman. Pelan-pelan atuh, Neng, kalo naro gelas tuh…” tegur Ibu Kantin.
Pihak yang ditegor hanya ber-hehe-hehe- saja sambil membersihkan bekas tumpahan minumannya. Setelah yakin bersih, dari tasnya Karin mengeluarkan buku tulis warna kuning yang sedikit lecek. Pelan-pelan Karin menaruh buku itu diatas meja dan mengarahkan pandangannya ke bangunan utama kampus. Menatap dengan perasaan harap-harap cemas ke lantai dua, tepatnya gedung perpustakaan.
Senyum tipis terkembang dibibirnya kala ia menangkap siluet sosok yang dibalut kemeja ungu, Juna. Lincah jemari lentiknya menuntun pensil untuk bergerak mengikuti kata hati serta pikirannya.
Menggambar Juna…

No comments: