Pages

Wednesday, 15 May 2013

#LoveFiction: Malam (Yang Mereka Butuhkan)



Asa
Dinginnya angin malam yang bertiup lembut tidak serta merta membuat surut semangat  dua gadis itu. Tangan mereka tetap sibuk mencuci pakaian-pakaian kotor milik mereka masing-masing. Sementara mulut dan pikiran mereka keluar menembus seluruh batasan dinding kosan.
“Ello adalah salah satu alasan gue buat keluar dari Tasik. Kalau tetap disana, gue akan sulit move on.” cerita Fairy.
“Dan, setelah lo ada di Tangerang, akhirnya berhasil move on?” Tanya Luna sambil mengorek-ngorek noda kering yang menempel dikerah kemejanya.
Fairy mendesah. Tangannya memilin-milin baju seragam kerjanya. Dengan mata yang menatap jauh keangkasa, ia berkata lirih, “Engga…”
Hening sejenak tercipta.
“Disini pun, tiap gue dekat sama cowok secara gak sadar pasti gue membanding-bandingkan mereka dengan Ello. Otak gue masih ngerekam dengan baik Ello seperti ini, seperti itu, yang secara otomatis bakal tersetel ulang waktu gue nge-date sama gebetan baru gue. Alhasil, sampai sekarang gue masih belum bisa menjalin hubungan lagi…” Fairy menghela nafas dalam-dalam. “Itu salah, gue paham.”
“Apa yang ngebuat lo kayak gini sih, Fa?” Tanya Luna. “Maksud gue… sehebat apa sih Ello sampai lo sulit banget buat cari pengganti dia?”
Fairy tersenyum, “Ello memang gak sehebat itu kok, Lun. Ada satu hal yang mengganjal hati gue. Ini seperti dendam, tapi bukan dendam. Lo paham gak maksud gue?” matanya menatap Luna sekilas. Dilihatnya gadis hitam manis itu menganggukkan kepala, ia pun melanjutkan, “Gue ingin ketemu Ello lagi… Bukan untuk ngajak dia balikan. Tapi, supaya dia tau dengan mata kepalanya sendiri, bahwa biar pun gue putus sama dia, gue tetap baik-baik aja bahkan jadi lebih baik dari sebelumnya. Gue pengen nunjukin itu, Lun…”
***
Pulang
Entah kali keberapa aku melirik arloji yang melingkari pergelangan tanganku dengan manis. Pukul 20.30 Wib. Aku menguap lagi. Hari sangat melelahkan untukku. Terlebih, aku harus melalui perjalanan panjang ini. Melewati lagi daerah yang telah lama aku tidak kulewati.
“Mas Ridwan padahal sore tadi masih baik-baik aja, May. Dia masih bisa main sama anak-anak. Bantuin gue beresin rumah, tapi tiba-tiba kondisinya drop.” Isak seorang perempuan bernama Irena. Tangannya meremas-remas sapu tangan merah muda untuk menahan gejolak emosinya. “Gue kira cuma sakit biasa tapi dokter gak ngebolehin dia pulang, May… bahkan harus masuk ICU…”
Maya meraih tangan Irena. Diusapnya punggung tangan perempuan itu penuh rasa simpati. “Sabar ya, Ren… Elo harus kuat biar anak dan suami lo juga kuat ngadepin ini semua.” Ujarnya.
“Gue bingung biayanya, Maya… Sehari di ICU itu mahal. Biayanya gue gak sanggup… rasanya pengen gue bawa pulang aja suami gue…” Irena menyusut air matanya yang berjatuhan semakin deras. Bibirnya bergetar hebat.
“Istigfar Iren… banyak orang yang cari ruang ICU susah. Suami lo udah dapet ICU disini, ngapain lo bawa pulang? Pikirin kesembuhan suami lo, Ren… Rejeki insya allah, masih bisa lo cari. Lo mau suami lo sembuhkan?”
“Iyalah Maya… gue belum siap kehilangan Mas Ridwan…”
Kemudian isak tangis Irena mewarnai ruang pendaftaran yang sedang sunyi. Aku dan Maya saling tatap, sama-sama tak mengerti harus bagaimana menenangkan Irena. Serta satu hal kenyataan mengerikan menyusup ke pikiranku.
Bahwa, detik berikutnya mengenai sehat-sakit serta hidup-matinya seseorang, tidak pernah ada yang mengetahui…
Dan, malam itu aku mulai menyadari jika sudah beberapa bulan ini aku belum pulang. Padahal jarak antara rumah orang tuaku dan tempat kosku tidak begitu jauh. Hanya berjarak dua jam, namun aku lebih asyik dengan kehidupan pribadiku. Padahal, orang tuaku sudah tidak muda lagi… padahal sewaktu-waktu banyak hal yang bisa mengancam kebersamaan kami… padahal begitu banyak cinta dan kasih yang belum kusampaikan pada mereka.
Dalam hati kuberharap agar lekas tiba dirumah untuk memeluk mereka…
***
Keputusan Besar
19.30
Ia menatap cemas pada mata penuh tanya dihadapannya. Sepuluh detik berlalu setelah dari bibirnya meluncukan sebuah pertanyaan, “Kapan kita menikah?” yang kini seakan mengunci mulutnya untuk bicara.
Mata itu mengerjap cepat, seakan baru terbangun dari tidur lama.
“Maksudnya sayang?”
Ina, yang mengajukan tanya mendesah kesal. “Kamu umur berapa sih?! Masa mencerna pertanyaan segitu gamblangnya aja gak bisa!”
“Bukan begitu sayang… aku gak ngerti deh kenapa tiba-tiba kamu tanya hal itu?” Albi mengusap wajahnya. Benaknya menghitung tanggal terakhir kekasihnya tersebut mengalami PMS. Ia ingat, baru minggu kemarin. ‘Masa udah PMS lagi, sih?’ desahnya.
“Karena, udah dari SMP kita kenal. Karena, udah dari SMA kita pacaran. Karena, sekarang usia kita udah lebih dari 25 tahun. Karena, aku mau tau, hubungan ini akan dibawa kemana. Karena, aku udah gak mau lagi buang-buang waktu untuk sesuatu hal yang gak pasti.”
“Bagi kamu, sekarang ini kita lagi buang-buang waktu? Aku sedang mempersiapkan semua untuk kita sayang… bisa gak kamu bersabar sedikit?”
“Menurut kamu, selama ini aku gak sabar?! Udah berapa kali kamu nunda pernikahan kita?” Ina mengibaskan anak rambutnya yang menutupi dahi, “Well, maksud aku, RENCANA PERNIKAHAN. Kamu tau? Dengan janji-janji itu, aku bisa bosan dan gak menganggap kata-kata kamu lagi!”
Albi menyandarkan punggungnya, “Na, aku juga capek kalo terus-terusan kamu cecar dengan hal itu…”
“Ya udah kalo kamu capek. We are over now!”
Albi menegakkan posisi tubuhnya, “Tapi, Na, kita…”
“Gak ada kita lagi.”
Ina berbalik dan keluar dari café. Albi termenung melihat gadisnya, atau mantan gadisnya yang berjalan semakin menjauh. Dari sakunya ia mengeluarkan sebuah kotak berisi cincin.
“I just need a time for asking you to be my wife, Na… It just about a time…” lirihnya sambil memandangi cincin itu.
***
Beres sudah tugasku merangkum cerita malam ini. Hari sudah semakin larut dan aku harus segera kembali menuju dunia para dewi malam karena dewi pagi akan menggantikan tugas kami. Satu kesimpulanku untuk hari ini, kadang manusia butuh kesempatan serta keberanian demi meraih keinginan mereka.
Salam,
Diosha de la Noche