Pages

Friday, 11 April 2014

T A N Y A




Motor yang kutumpangi berhenti tepat didepan sebuah pagar yang temboknya berwarna merah. Kukeluarkan selembar uang lima ribuan dari dalam dompet lantas menyerahkannya pada tukang ojek tersebut. Ia mengucap terima kasih, lalu memacu kembali motornya menuju tempat mangkalnya semula. Untung-untung bila dijalan nanti ia bertemu dengan sewa baru.
Rumah itu tampak sepi diluar. Namun, telingaku mampu mendengar celoteh penghuni didalamnya. Ah, semua sedang berkumpul rupanya.
Aku mengucap salam berbarengan dengan menggeser pagar hitam berukuran sedang, lalu melangkahkan kaki menginjak teras rumah tersebut. Sebagai rumah di komplek pemerintah, rumah sederhana ini punya masalah serupa dengan tetangga dikanan kirinya. Yakni, sempit lahan. Maka, untuk tetap menjaga privasi penghuni dengan tamu yang bertandang, teras disulap menjadi ruang tamu semi out door. Ya, teras dibangun dengan atap menutup sempurna hingga ke pagar. Keramik berwarna biru pun menutup seluruh lantainya hingga hanya menyisakan sedikit lahan untuk area cuci kaki dan taman mini di sudut rumah. Diteras inilah kursi-kursi tamu diletakkan bersama dengan sebuah buffet coklat yang fungsinya tak lain hanya sebagai tempat menaruh helm. Lumayan dengan begini, penghuni didalam yang hobi berkostum seadanya tidak terlalu merasa terganggu saat tamu datang bertandang.
Kududukkan tubuhku disalah satu kursi. Tas kuletakkan diatas meja beralaskan taplak meja putih berhias bunga-bunga warna ungu. Saat sedang melepaskan high heels yang kukenakan pintu rumah terbuka. Dari dalamnya muncul sosok remaja tanggung usia kurang lebih tiga belas tahun berkulit kuning langsat dengan wajah sedikit berjerawat. Ia tersenyum menyambut hadirku.
“Pulang juga lu, setelah hampir dua minggu kaga balik kesini. Gue kirain udah lupa sama jalan pulang.” Sambutnya setengah meledek.
Dia adik lelakiku yang paling tua. Sambutan setengah meledek tersebut memang menjadi khasnya setiap bertemu dengan aku, kakaknya. Adikku duduk disampingku seraya menggapai bungkusan yang kuletakkan disamping tasku.
“Apaan nih?” tanyanya sambil melongok isinya.
“Soto.” Kujawab singkat.
Ia nyengir lebar, “Kangen racikan Bapak tiap makan soto ya lo?” godanya lagi. “Makanya sering pulang, main mulu sih kalo liburan gak inget rumah.” Sindirnya.
Aku mendelik sebal, “Bawel lo. Bawa masuk kedalam sana makanannya.”
“Iye…” jawabnya asal lalu melangkah menuju kedalam rumah diikuti aku dari belakangnya.
Didepan TV, Bapak, Ibu, dan adik bungsuku tengah berkumpul. Mereka menoleh melihat kedatanganku.
“Pulang juga anak ini. Kirain lupa sama rumah.” Sambut Bapak ketika dengan takzim kucium tangannya.
“Ah, Bapak nih, nyindirnya sama kaya Fitra.” Aku bersungut-sungut pada Bapakku saat sedang mencium tangan Ibuku.
Beliau hanya nyengir saja mendengar protesku, kembali asyik menonton tayangan Kick Andy.
“Kakak pulang bawa soto nih, Pak. Kangen katanya makan soto di racik sama Bapak.” Fitra melapor. Ia menunjukkan bungkusan plastik hitam tersebut. Menciptakan senyum di bibir Bapak mengingat racikannya hanya berupa tambahan beberapa tetes kecap manis dan sesendok sambal ternyata begitu digemari anak-anaknya.
“Mau langsung di makan sekarang gak?” Tanya Ibuku.
Empat kepala termasuk aku mengangguk seraya menjawab serempak, “Mau!”
Mendengar itu Ibu kemudian bangun untuk menyajikan lima mangkuk Soto untuknya, suami, serta anak-anaknya yang kelaparan.
Inilah saat-saat kebersamaan yang selalu kurindukan. Ketika kami bersenda gurau, mengatakan segala hal, menertawakan banyak hal, serta merenungi hal-hal tersebut. Dan, momen-momen di meja makan yang penuh keributan seperti sekarang pun ternyata begitu kurindukan.
“Pak, punya aku di racikin juga dong…” pintaku manja meski usia sudah hampir dua puluh tiga.
“Ye… Kakak gak sabar, nih. Aku dulu!” sela adikku yang paling bontot, Galdy.
“Ih, yang gak sabar tuh siapa? Kamu atau Kakak? Buktinya kamu nyelak!” aku gak mau kalah dari adikku.
“Kakak sama Galdy rebutan aja, nih. Satu-satu dong biar Bapak gak pusing.” Fitra angkat suara sekaligus menggeser mangkuknya kedepan Bapak.
“Yeeee… Fitra nyelak!” Koor aku dan Galdy.
Melihat itu Bapak hanya tersenyum, sedangkan Ibu menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berkata, “Kakaknya gak pulang rumah sepi, giliran pulang semua pada ribut. Haduh…”
***
Waktu bergerak cepat, keributan kecil di meja makan pun usai sudah. Kini, matahari senja menguasai langit, membuat birunya lenyap digantikan jingga. Mushala yang tepat terletak disebrang rumah mulai menampakkan denyut kehidupan saat adzan dikumandangkan.
Fitra dan Galdy ribut-ribut mencari sarung membuat Ibu mengulang lagi nasihat lamanya bahwa menaruh barang harus pada tempatnya supaya tidak pusing mencari ketika dibutuhkan. Nasihat yang lagi-lagi hanya mampir sebentar di telinga Fitra dan Galdy lalu keluar lagi terbawa angin. Setelah benda yang dicari-cari ketemu, melesatlah dua kakak-adik yang hanya terpaut jarak usia tiga tahun menuju Mushala. Meninggalkan Ibu yang menatap mereka dengan sisa-sisa kesal didada.
Ibu salah duga jika omelannya akan berhenti pada Fitra dan Galdy saja. Ia lupa, putri sulungnya sedang dirumah, dan dia adalah dalang utama dari kebandelan adik-adiknya. Lihat saja, mendengar adzan bukannya segera beranjak untuk berwudhu, aku justru hendak meraih remote TV. Benar saja, suara Ibu menyalak lebih cepat daripada gerakan tanganku menyentuh remote. Hanya dengan satu pertanyaan singkat, Ibu mampu membuatku urung meraih remote TV tersebut.
Ya, hanya dengan satu pertanyaan singkat, “Kamu dengar suara adzan tidak?” namun mata Ibu menatap sasarannya garang.
***
Keributan yang berulang setiap magrib menjelang pun usai sudah. Fitra dan Galdy telah pulang kerumah dengan berlari-lari hingga menciptakan suara grabak-grubuk yang gaduh. Aku pun sudah menunaikan shalat dan kemudian memilih untuk mengurung diri di kamar sembari membaca ulang koleksi novel-novel lamaku.
Di luar kamar, terdengar suara Bapak sedang memerintah Fitra dan Galdy untuk mengaji. Mereka berdua lantas meributkan siapa yang mendapat giliran pertama membaca ayat suci tersebut. Fitra lagi-lagi protes karena kembali ia yang harus pertama kali membaca. Dan, Bapak kembali menjawab protes Fitra dengan jawaban yang sama yaitu karena Fitra adalah anak laki-laki tertua dalam keluarga ini. Setelah Fitra selesai membaca hingga satu tanda ain, tibalah giliran Galdy. Bapak lantas meminta Fitra untuk menghafal satu buat ayat yang nantinya akan disetorkan padanya. Galdy pun demikian, setelah selesai mengaji ia akan menghafal satu ayat yang kemudian akan di tes kemampuan menghafalnya dihadapan Bapak. Ibu juga menghabiskan waktunya setelah salat magrib dengan membaca Al-Quran. Bedanya, ia tidak gabung dengan Bapak, Fitra, dan Galdy.
Aku mendengarkan rutinitas tersebut dari balik pintu kamarku. Mendengarnya sambil lalu karena perhatianku tertuju pada kisah romansa yang tertuang dalam novel picisan koleksiku.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka begitu saja, tanpa ada ketukan terlebih dulu. Membuat aku terlonjak kaget saat Galdy menghabur masuk seraya berteriak, “Kakak!”
Aku mencubit pipi gembilnya, “Salam dulu kek kalo mau masuk.”
“Dih, kayak mau masuk rumah aja.” Sahutnya cuek bebek terhadap protesku.
“Kamu mau ngapain kesini? Belum setoran hafalan kan sama Bapak?” tanyaku.
“Lha, justru aku kesini mau ngafalin, Kak. Diluar aku gak konsen karena dengar suaranya Mas Fitra.” Galdy menjelaskan.
Aku hanya ber”Ooo” saja mendengar jawaban Galdy. Tidak terlalu peduli dan tidak ingin ambil pusing.
Bagian novel yang kubaca sedang memasuki bagian yang paling seru. Konsentrasiku pun sedikit terganggu ketika Galdy memanggil.
“Kak…”
“Oy.” Aku tak menoleh.
“Kakak kok gak pernah ikutan ngaji sih kayak aku dan Mas Fitra?”
Aku terdiam. Menoleh pada Galdy, menatapi wajah polos bocah kelas enam SD tersebut. “Kenapa emang, Dy?” tanyaku enteng.
“Gak apa-apa,kok. Mungkin karena Kakak udah sering khatam ya jadi gak ikut ngaji kayak aku dan Mas Fitra?” Galdy diam sesaat. “Memang, Kakak udah berapa kali khatam baca Al-Qurannya?”
***
Waktu sudah pukul 00.00 tetapi mataku belum mau terpejam. Tak ada sedikitpun kantuk yang singgah walau hari ini aku baru tidur selama dua jam. Itu pun tidak terlalu nyaman karena aku tidur dalam angkot saat perjalanan pulang siang tadi.
Ada sesuatu yang menghantam pikiranku, yang menohok hatiku, yang menggelitik perasaanku, sesuatu yang ingin membuatku menangis sejadi-jadinya.
Bukan karena cinta.
Bukan karena sebuah nama.
Bukan juga karena sebuah penolakan.
Namun, karena sebuah pertanyaan sederhana yang tak sanggup kujawab,
“Sudah berapa kali Kakak khatam baca Al-Qur’an?”