Pages

Saturday, 19 December 2015

SEBUAH WADAH BAGI PARA KREATIF!

Lama tidak bersua dengan semua hal mengenai tulis menulis entah itu cerpen, puisi, sajak-sajak singkat, bahkan quote yang dulu sering sekali saya buat. Bikin saya cukup kagok ketika memutuskan untuk kembali bersentuhan dengan dunia yang dulunya saya geluti setengah mati. Ya, menulis sama dengan bersepeda. Akan sangat lancar jika kita rajin berlatih, atau sering jalan-jalan, tapi bisa membuat kagok bahkan jatuh bila lama tidak digunakan. Seperti itulah, rasanya frustasi sekali. Biasanya, kursos pada Microsoft Office tidak perlu waktu berjam-jam hanya untuk saya pandangi, sebab ide-ide mudah sekali mengalir. Tapi... kala saya mencoba menulis setelah sekian lama tidak melakukannya sungguh kaku. Benar-benar tidak tahu harus bagaimana untuk sekedar memulai awal, tidak tahu bagaimana membuat alur yang baik dan bagus dalam sebuah cerita. Ini bikin saya mau nangis, banting buku, banting laptop, dan hampir menyerah. Namun, suatu hari saya menemukan sebuah kata-kata bijak, yaitu: Jika kamu ingin menjadi pribadi kreatif, bergaullah dengan orang-orang kreatif.

Dari situlah, saya mulai kasak kusuk mencari-cari sebuah media terutama online yang isinya benar-benar orang kreatif dan menyukai dunia menulis. Mencari wadah seperti ini tidaklah mudah, sebab perkembangan internet yang semakin canggih juga harus membuat kita meningkatkan kehati-hatian, sebab jika tidak, kita akan terjerumus pada hal-hal negatif yang menggunakan hobi kita sebagai cara untuk membuat kita tertarik. Dulu, saat saya masih kuliah, saya pernah ikut sebuah grup kepenulisan minor yang ada di facebook. Mereka menyelenggarakan sebuah event antologi cerpen, demi untuk meningkatkan jam terbang saya ikutan acara tersebut. Dan, ternyata karya saya berhasil lolos seleksi dan akan dibukukan dengan sesama rekan penulis lainnya. Kami diminta patungan dengan dalih sebagai uang untuk proses pencetakan buku tersebut dan dijanjikan uang royalti dari hasil penjualan. Seiring berjalannya waktu, buku tersebut akhirnya berhasil tercetak dan dikirim kepada kami para penulisnya. Namun, hingga saya menulis postingan ini, tidak sepeser pun saya menerima royalti yang dijanjikan. Di akun facebooknya, salah satu panitia berkeluh kesah mengenai penjualan yang jeblok dan hasil yang tidak seberapa sehingga mereka bingung bagaimana untuk membagikan royalti pada para penulis. Saya menyadari, jika buku tersebut memang terdiri dari para penulis amatir yang wajar rasanya jika kalah dalam penjualan bila dibandingkan dengan buku-buku para profesional. Mengenai royalti, saya pun tidak mempersalahkan, sebab pikir saya saat itu memperbanyak jam terbang ialah hal yang lebih penting. Namun, saya menggaris bawahi manajemen kepanitiaan buku minor yang bagi saya patut diacungi jempol secara terbalik. Ya, saya kecewa sekali... Kenapa? Sebab, meski pun kita berposisi sebagai penulis minor, namun dalam membuat karya kita tetap menggunakan otak untuk berpikir, Saya merasa sudah seharusnya kami dihargai dengan cara melaporkan progress penjualan setiap bulan. Ada tidak ada pembeli, itu masalah bersama, yang penting laporkan. Komunikasi itu penting. Sehingga kami tidak menjadi salah paham. Berkaca dari hal tersebut, saya jadi tidak mau asal-asalan dalam ikut serta lomba atau event menulis.

Beruntung, karena pada akhirnya saya menemukan sebuah platform yang isinya benar-benar penulis, baik yang sedang belajar maupun sudah profesional. Nama platform tersebut ialah Storial.Co.

Storial.Co merupakan perusahaan dari Nulisbuku.com yang merupakan wadah untuk para penulis yang ingin menerbitkan bukunya sendiri, istilahnya Self Publisher. Gabung dengan Storial.Co pun mudah sekali. kita hanya perlu membuat akun di sana dan GRATIS! Meski pun begitu, platfom ini menawarkan banyak keuntungan dari kita, para pekuter alis Penulis Kurang Terkenal, yaitu:


  1. Kita dapat menulis cerita dan dibaca oleh kurang lebih 1800 anggota di Storial.Co. Ingat ya, sebagai sebuah media, para anggota Storial.Co tidak hanya kumpulan penulis amatir, namun juga ada yang sudah Pro, dan tidak menutup kemungkinan para pemilik usaha percetakan buku yang dapat membaca karyamu. Ya, anggap saja Storial.Co adalah portofolio online milikmu.
  2. Ini nih yang asyik, regitrasi GRATIS... TIS... cukup kamu bayar saja pulsa untuk biaya kamu internetan, he...he...he...
  3. Koleksi di Storial.Co lengkap loh. Ada kumcer cinta-cintaan, novel, kumpulan puisi, buku travelling, dan kamu pun punya kesempatan untuk ciptakan sendiri genre-mu.
  4. Storial.Co mudah sekali diakses melalui gadjetmu dan ramah untuk pandangan mata (gak bikin siwer).
Ini adalah halaman petama dari Storial.Co

Nama Storial.Co yang mudah diingat dan gak pasaran, memudahkan kita untuk menemukan media tersebut. Design Web-nya pun gak norak. Eye catchy dengan pemandangan seseorang tengah menulis dihadapan pantai dan buku-buku yang telah di Up Load di Storial.Co. Dari depannya aja, sudah membuat penasaran tentang isi di dalamnya. Iya kan?


Untuk kamu-kamu yang belum punya akun di Storial.Co hanya tinggal login saja. Isi data diri kamu, upload foto yang keren, voilla... kamu siap untuk membuat buku-buku di Storial.Co!





































Seperti toko buku offline yang memiliki etalase untuk memajang buku-buku koleksinya, begitu pula dengan media Online Storial.Co. Mereka memiliki semacam etalase yang memajang buku mulai dari buku terpopuler, hingga buku terbaru lengkap dengan jumlah bintang sebagai peringkat yang dimiliki oleh masing-masing buku.

Pihak editor dari Storial.Co rajin memperbaharui buku terpopuler menurut pilihan editor. Sebuah stimulus yang baik demi membuat para penulis termotivasi untuk semakin memperbaiki tulisannya.

Dan, untuk buku atau bab baru yang diunggah, akan ditampilkan dihalaman Storial.Co jadi para penulis maun pun pembaca dapat mampir untuk membaca sehingga gak kelewatan.

Saya pun sudah bergabung dengan Storial.Co dan telah membuat buku dengan tajuk Mengenai Waktu yang berisi cerpen-cerpen. Baru tiga bab, dan belum masuk sebagai buku pilihan editor (curhat colongan hahaha). Tidak apa-apa, yang penting saya melakukannya, dan semakin sering kita berlatih semoga akan semakin memperbaiki kualitas tulisan sehingga dengan begitu para pembaca akan semakin percaya pada karya-karya kita. 

Nah, tunggu apalagi? Mari segera gabung dan sama-sama kita warnai dunia menulis dengan karya-karya kita.

Happy writing pals!

Sunday, 13 December 2015

Bintang

Sebuah bintang...
Sampai kapan pun, akan tetap seperti bintang

Hanya untuk ditatap dari kejauhan, tanpa ada kesempatan memilikinya dalam genggaman

Saturday, 12 December 2015

Proses Identifikasi

"Nama lengkap pasiennya siapa?"
"Tanggal lahirnya?"

Pernah mendapat pertanyaan tersebut ketika berobat Rumah Sakit?

Beberapa orang yang pernah saya temui langsung menjawab pertanyaan itu. Namun, tidak sedikit juga yang memasang tampang bingung, sebal atau heran. Mungkin di pikiran mereka bertanya-tanya, kenapa harus ditanya lagi data-data tersebut sedangkan petugas rumah sakit telah memegang data milik pasien?

Pertanyaan itu diulang kembali, terutama jika petugas berbeda adalah sebagai securitas, keamanan. Sebab, beratus-ratus orang yang berobat di Rumah Sakit tentu meningkatkan risiko adanya pasien dengan nama sama atau tanggal lahir sama. Pastinya akan jadi masalah besar jika terjadi kesalahan dalam data pasien akibat petugas Rumah Sakit tidak menanyakan hal tersebut, misal:

1. Berkas rekam medis yang berisi riwayat, keluhan, terapi pengobatan, pemeriksaan penunjang, dll, berisiko tertukar
2. Dapat terjadi kesalahan dalam pemberian obat, tata laksana penyakit, pemeriksaan penunjang, dll
3. Jika hal-hal yang berkaitan dengan pasien tertukar dengan pasien lain dapat berisiko tidak tepatnya tata laksana pengobatan yang diberikan oleh dokter.

Serta masih banyak kemungkinan risiko lainnya bila data pasien tidak ditanyakan oleh petugas Rumah Sakit.

Untuk itu, demi keamanan diri sendiri serta orang terkasih saat berobat di Rumah Sakit, berikan data yang sesungguhnya (dapat sesuai KTP) pada petugas Rumah Sakit dan diusahakan tidak memberikan tampang judes apalagi marah (kecuali kalau dijudesin, ya... judesin balik hehehe ✌).

Proses tadi kami sebut sebagai Identifikasi Pasien. Demi terciptanya keamanan terhadap setiap pasien yang mendapat pengobatan.

Thursday, 10 December 2015

#DearMama: BIRU PADA DIRIMU


PROLOG
Lelah.
Satu kata yang engkau enyahkan pada hidupmu selamanya. Sebab, bila kata tersebut tersirat, meski hanya satu kali, bisa berakibat melemahkan untukmu. Sedangkan menjadi sosok lemah, bukanlah sebuah pilihan dalam kehidupanmu sekarang maupun masa akan datang.
Keluasan hati, hal yang selalu kau pupuk setiap hari. Demi kumpulan manusia-manusia menyebalkan yang akan selalu pulang kepadamu, meski baru saja berikan umpatan menyakitkan. Yaitu;
Suamimu.
Serta, anak-anakmu.
Sabtu.
Samar-samar kutatap jam dinding yang tergantung di atas meja belajar. Kukucek-kucek mata demi mendapat pandangan yang jelas.
Masih pukul 06.25 WIB.
Aku bersiap untuk melanjutkan tidur. Kadang, kita memang perlu mengalokasikan satu hari untuk sedikit menyia-nyiakan waktu pagi. Baru saja aku akan terpejam, pekikan seorang wanita dari kamar tidur yang tepat bersebelahan dengan kamarku, membuatku terlonjak dari kasur. Berdiri tegak-tegak di atas keramik putih yang merupakan lantai kamarku. Mataku nyalang mengawasi keadaan sekitar kamar, seakan meminta nyawa-nyawaku yang masih melayang-layang untuk secepatnya kembali masuk pada ragaku. Lalu, kupasang telingaku baik-baik. Pekikan itu berubah cepat menjadi lengkingan tajam dan memilukan.
Itu adalah suara Ibu.
Membabi buta kubuka pintu kamarku dan menghambur kedalam kamarnya. Tak ada ketuk pintu, masa bodo dengan permisi dan sopan santun. Aku hanya ingin mengetahui apa yang sedang terjadi. Sambil merapal doa-doa yang untungnya sedikit banyak masih tersangkut di memori otakku, bertindih-tindih dengan ingatanku tentang mantan, film-film Hollywood, drama korea hingga lirik lagu.
Di lantai keramik nan dingin, Ibuku terduduk dengan air mata bercucuran. Telepon genggam menempel di telinganya.
“Kapan, Ri?” isaknya kian kencang, ia menoleh menatapku lalu berusaha berdiri. “Mbah Kakung nggak ada...” kemudian Ibu berusaha melewatiku dan keluar dari kamar.
Aku mengikutinya hingga ke bagian belakang rumah. Dari mulutnya terdengar ia bergumam memanggil-manggil Ayahnya yang telah pergi. Lalu, ketika Ibu sudah berhadapan dengan Papa, ia kembali merosot lantai.
“Bapak meninggal pagi ini.” Raung Ibu dengan wajah dibenamkan diantara lututnya. Tangan kanannya menyerahkan ponsel miliknya pada Papa. Pria yang rambutnya telah dipenuhi uban itu mengelus-elus puncak kepala Ibu. Berusaha menenangkan wanita yang telah menjadi istrinya selama kurang-lebih dua puluh enam tahun.
Kemudian, Papa menyingkir dari hadapan Ibu dengan membawa ponsel miliknya. Sayup-sayup kudengar suara Papa yang mengucapkan bela sungkawa dan mengatakan untuk segera menguburkan jenazah tanpa perlu menunggu kehadiran kami.
“Jarak rumah kita terlalu jauh.” Kata Papa saat Ibu menatapnya seakan meminta jawaban.
Ya, akan butuh waktu lama dari Tangerang menuju Magelang. Aku yakin Ibu paham itu. Namun, tampaknya Ibu sedang tidak bisa menguasai secara penuh dirinya. Kini, ia kembali menangis tersedu-sedan. Aku menatapnya dan merasa tidak asing dengan seluruh cuplikan yang baru saja terjadi di hadapanku.
Wajah kehilangan Ibu, aku pernah melihatnya di wajahku ketika kehilangan mainan kesayanganku. Dan, Ibu memelukku, membujuk agar aku tenang.
Deras air matanya. Sederas saat aku tersedu pilu setelah dibully teman-teman sekolahku ketika SD. Dan, Ibu memelukku, membujuk agar aku tenang.
Jeritan kehilangan. Suara yang sama pernah keluar dari mulutku ketika disatu Lebaran kami harus mudik ke Magelang hanya berdua, meninggalkan Papa yang tidak mendapat cuti dari kantor. Dan, Ibu memelukku, membujuk agar aku tenang.
Begitu sering aku mengadu padanya tentang kesedihanku, lalu Ibu seakan mengabaikan kesedihannya, kemalanganya, nelangsa hatinya, menutupi semuanya hanya untuk menghiburku dan melihatku kembali tenang.
Menghapuskan air mataku dengan tangannya, sedangkan tak pernah terpikir olehku berapa sering ia gunakan tangan yang sama untuk menyeka air matanya diam-diam.
Menggunakan pelukannya agar aku dapat lupakan kesedihanku tanpa pernah tahu bagaimana perasaannya yang sebenar-benarnya.
Ah, bodohnya aku.
Wanita yang melahirkan aku dua puluh lima tahun lalu, saat ini sedang berada dalam titik terendah dalam hidupnya. Baru kali ini, kan, aku melihat Ibu sesedih sekarang?
Kutepiskan rasa ragu. kuraih tangannya yang mulai menua dan berkerut. Lalu, kubawa ia dalam pelukanku sebagaimana dulu ia selalu memelukku.
Mengusap punggungnya dengan harapan ia segera merasa baikan, seperti yang kurasa setiap kali tangannya membelai lembut punggungku.
Mendengarkan kala ia mengutarakan permintaan maafnya sebab tak hadir dalam detik-detik terakhir kehidupan Ayah kandungnya. sama seperti ia mendengarku menyebut-nyebut Papa ketika bus akan melaju dan menegaskan jarak yang akan membentang di antara kami meski hanya sementara.
‘Maaf, Bu... Mungkin hangat pelukku tidak akan sehangat yang pernah kau beri untukku.
Maaf, Bu... Berada dalam pelukku mungkin tidak senyaman seperti saat aku yang ada dalam pelukmu.
Maaf, Bu... Untuk tidak bisa berkata jika semua baik-baik saja. Lidah ini menjadi kelu ketika sepasang mataku menjadi saksi atas kehilangan yang kau rasa.’ ucapku dalam hati,
Tapi ketahuilah... saat ini, hanya pelukku yang mewakili betapa engkau sangat berarti dan sedihmu merupakan pukulan telak bagi kami, anak-anakmu.
Maaf, Bu...
Lalu, aku memapah Ibu menuju kamarnya dan kemudian mempersiapkan segala hal yang perlu dibawa untuk perjalanan darat menuju Magelang. Dan, Ibu hanya meringkuk, melanjutnya senandung pilunya atas kepergian Ayahnya tercinta.
EPILOG
Kutahan nafasku sepagi ini saat tukang ojek yang mengantarku bertanya, “Ibu masih di Magelang, Mbak?”
Tahun 2015 loh ini... masa nggak tahu sikat gigi sih!’ Omelku dalam hati.
“Iya, masih.” kujawab singkat pertanyaannya.
Kepalanya yang tidak kalah bau mengangguk-angguk. “Nunggu sampai tujuh hari kali, ya?”
“Mungkin.” Kali ini aku terpaksa sedikit menjauhkan kepalaku darinya. Mual sudah mencium bau mulutnya.
“Tahun baru kemana, Mbak? Jalan dong sama pacarnya?”
Aku tersenyum, meski kutahu pasti jika tukang ojek itu takkan bisa melihatku. Lalu dengan mantap aku menjawab.
“Mau tahun baruan sama Ibu-Bapak dan adik-adik aja, Mang. Mau puas-puasin sama mereka dulu mumpung masih pada sehat, jadi gampang untuk diajak kemana-mana. Nanti, kalau mereka sudah tua dan sakit-sakitan akan repot. Jangankan jalan-jalan, buat duduk saja mungkin harus dibantu.”
Tukang ojek itu tertawa, “Ah... kalau sama orang tua akan terbatas dong, Mbak. Mau kesana-kemarinya nggak enak.”
“Biarin.” Jawabku pendek.


Sebab, kita gak pernah tahu kapan Tuhan memerintahkan malaikatnya untuk membawa pulang salah satu dari kita kembali kehadapanNya. Dan, umur manusia tidak diukur dengan matematika yang diajarkan oleh sekolah. Siapa saja dapat kembali dengan cara dan waktu tanpa bisa diduga. Untuk itu, dalam waktu yang semakin mendewasakan umurku, sekaligus menuakan orang tuaku, dan sebelum semuanya terlambat, aku ingin banyak menghasilkan kenangan bersama mereka sebanyak-banyaknya...’

***
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DearMama yang diselenggarakan Nulisbuku.com dan Storial.co

Tuesday, 8 December 2015

Toilet Gratis (KATANYA)

Saya baru pulang dari perjalanan 'kilat' menuju Magelang. Karena setelah sampai tujuan pada pukul 10.00 pagi, saya harus pulang lagi ke rumah pada pukul 17.00.

Dalam perjalanan singkat itu, ada hal-hal yang menggelitik hati dan pikiran saya. Salah satu yang membekas hingga saat ini adalah sebuah tulisan di toilet umum yang saya jumpai saat berhenti di sebuah rest area ketika dalam perjalanan menuji Magelang. Di depan toilet tersebut ada satu tulisan menggunakan kertas HVS yang ditempel di depan pintu toilet antara toilet Pria dan Wanita, berbunyi: TOILET GRATIS. Wah... Sebagai calon pengguna toilet saya seneng dong, karena artinya uang dua ribu saya selamat, hehehe. Bukan pelit.... coba aja hitung, kalau sekali buang air kecil kena tarif Rp.2000, berapa banyak yang harus dikeluarkan jika kita BAK sebanyak lima kali? Kok, banyak? Iyalah... secara perjalanan jauh, kalau kebelet BAK/BAB ditengah-tengah jalan Tol kan gawat, jadi memanfaatkan momen ketika mobil melipir di rest area.
Saat saya mendekati toilet umum tersebut, rasa kecele langsung hinggap di hati. Bagaimana tidak, didepan pintu masuk ada ALGOJO yang jagain pintu dengan uang ditangan. Jadi, para pengguna toilet akan membayar setelah mereka selesai beraktivitas di kamar mandi.

Kalau begitu sih, gak perlu lah pasang-pasang tulisan toilet gratis kalau keluarnya kudu bayar. Jujur sajalah jika memang butuh biaya untuk perawatan dan tidak sanggup mengratiskan. Saya rasa pengguna pun akan maklum, sebab dari uang tersebut kebersihan toilet akan terjaga. Tidak perlulah bikin orang berharap, lalu menjatuhkan harapannya begitu saja.

Sunday, 22 November 2015

Lomba Alert: Blog Review Stand Up Comedy Academy Indosiar

Kamu penikmat dan pecinta Stand Up Comedy?
Kamu mengikuti perkembangan Stand Up Comedy di Indonesia?
Kamu menonton tiap episode Stand Up Comedy Academy (SUCA) Indosiar ?
Nah, kamu bisa berpartisipasi dalam lomba review tayangan Stand Up Comedy Academy (SUCA) Indosiar. Total hadiahnya mencapai 10 juta!
Deadline lomba hingga tanggal 13 Desember. Kamu cuma perlu bikin review tentang tayangan tersebut, trus mention @indosiarid. Keterangan lebih lanjut baca  lampiran fotonya aja yaaaa 😀😀😀.
So, tunggu apa lagi guys, kita ikutan nyok!

Saturday, 21 November 2015

Nulis? Yaaaa Nulis Aja!

Ada perasaan insecure tiap ada temen yang tanya, "masih suka nulis gak?". Gue jawab sambil cengengesan, "gak."


Ya, jawabnya udah gitu aja. Enggak. Titik. Tanpa alasan yang jelas, tanpa perlu jelasin ke orang2 ada apa gerangan sampe gak nulis2 lagi. Bahkan, ikut lomba di penerbit minor pun enggak. Di sini pun, gue gak akan jelasin kenapa gue vakum nulis sampe sekitar 1 atau 2 tahun ini *lupa pastinya kapan*.


Nah, entah ada konspirasi apa antara alam dan semesta, tiba-tiba muncul 1, 2, 3 orang yang datang gantian dengan nyelipin pertanyaan serupa, "Masih nulis?", "Bikin ini dong", "Bikin itu dong". Semua hal yang bikin gue menghela nafas. Kenapa?


Karena, ternyata menulis seumpama naik sepeda. Kalo sering, bikin kita 'gape' alias jago banget mengendarainya. Mungkin, bisa dibikin lompat-lompat, terjun sana-sini. Sama, kalo sering nulis lama kelamaan kemampuan kita akan berkembang. Akan semakin dewasa, akan nemu titik sela di mana lo sangat bagus saat menulis dengan tema tersebut. Dan... ketika lo menjauh dengan dunia itu, kemudian kembali lagi, lo akan menemukan fakta jika itu tidak semudah yang lo bayangkan. Bahkan, bisa bikin frustasi!

Rasanya seperti, saat lo mutusin seseorang gitu aja, abis itu lo nyesel dan ketika ingin balik lagi, orang itu melengosin wajah sambil bilang, "Gak semudah itu jeng bro!"


Serius deh... sekian lama gak nulis, sekalinya nulis lagi, gue berasa gak kenal dengan diri gue sendiri. Gue gak percaya dengan tools yang gue pake buat nulis karena gak bisa mentransfer secara tepat antara apa yang gue bayangkan dengan apa yang hadir di lembar ms.office.


Pengen banget marah. Tapi gak jadi soalnya yang jadi sumber kesalahan adalah diri sendiri. Jadi, kalo mau marah harus lihat kaca biar sambil nunjuk2 diri sendiri. Puas2in ngatain diri sendiri BODOH, sampe mulut kram.


Hanya saja, gue pikir-pikir, sekeras apa pun gue teriak pada diri sendiri dan ngatain BODOH, hal tersebut gak lantas bikin gue jadi lancar nulis. Gak tetiba bikin inspirasi-inspirasi gue berbondong-bondong datang.
Satu-satunya hal logia yang HARUS dilakukan, cuma satu: NULIS.


Ya, gue harus nulis lagi. Ngulang semua dari awal, dari nol, untuk dapat kembali ke posisi seperti waktu itu. Harus... bahkan seharusnya menjadi lebih baik dan memang harus baik.
So, nulis yaaa nulis aja. Tentang apapun, sampai akhirnya kembali menemukan jati diri atau persona yang ELU atau GUE banget dalam tulisan.

Tuesday, 17 November 2015

PEKERJAAN ENAK

Pagi ini, saya sedang membuat laporan ketika saya tertohok oleh perkataan seseorang yang baru memasuki ruang kerja kami.
Dia berkata, "Enak ya kerjaan lo. Gitu-gitu doang." (Well, dia bekerja dibagian pantry dan harus bagiin snack bagi karyawan).
Karena saya bekerja di bagian office dan 'kelihatannya' hanya duduk, ngetik-ngetik, lantas dibilang enak. Padahal... pekerjaan saya memiliki presure tersendiri yang sering bikin saya pengen banget bilang "enough". Belum lagi, pekerjaan di bagian manajemen kan gak ada istilah diover kan pada kawan seperti halnya kalau kita bekerja dengan jam kerja shift. Rasanya pekerjaan itu gak ada habisnya, deh.

Menurut saya, pekerjaan dalam bidang apapun, meski terlihat remeh pun, tetap memiliki risiko, tekanan dan beban tersendiri yang gak bisa kita pukul rata bahwa pekerjaannya lebih enak daripada pekerjaan kita. Meski pun, pekerjaan tersebut sesuai dengan minat dan pilihan. Namun tetap, gak ada pekerjaan enak didunia ini. Seenak-enaknya pun, pasti akan ada momen --meski hanya 1 menit-- di mana kita pengen banget nge-skip apa yang sedang dikerjakan.

Untuk itu, marilah saling mengharhai pekerjaan masing-masing orang dimulai dengan berhenti mengatakan "enak ya kerjaan elu...". Sebab, kita gak pernah tahu gimana tantangan dan tekanan yang harus dihadapinya.

Monday, 16 November 2015

Celebrasi Senin

Senin!
Banyak yang bilang "I hate monday" cuma gara-gara senin menjadi awalan dalam minggu baru setelah sebelumnya kita menikmati weekend. Apa salah si Senin? Memangnya, dia yang minta supaya dia jadi awalan dalam minggu baru? Kalo dia tau bakalan dibenci oleh banyak orang dari seluruh penjuru dunia. dia pasti langsung nolak dan nawarin hari-hari lain sebagai kandidatnya.
Tapi... memang sih, Senin itu nyebelin banget! *kok gue jadi ikutan ya?*
Kenapa nyebelin? Soalnya, setelah kita nikmatin hari yang nggak terlalu macet dihari Minggu (Sabtu apalagi malam minggu bakalan macet banget!), kita dipaksa buat berhadapan dengan macet dan teman-teman. Nyebelinnya lagi, dari hari Senin ke Minggu itu lamaaaaaa banget! Beda kalo dari hari Minggu ke Senin, berasa hanya kedipan mata doang! Yang tadinya bangun bisa siang, mau ngelakuin apa juga bebas-bebas aja, tau-tau sudah malam dan tau-tau sudah pagi lagi aja. Hari Minggu cuma berasa mimpi, ya gak sih?
Well, stop blamming Monday, karena seperti yang gue bilang dia gak tau apa-apa. Mari kita rayakan pertemuan dengan hari Senin melalui rasa syukur. Ya, dibalik nyebelinnya hari Senin karena harus ketemu macet, ketemu kerjaan, ketemu tugas, ketemu orang-orang bau keringat di jalanan, setidaknya kita masih punya kegiatan. Banyak orang, di luar sana yang bingung gimana harus memulai hari-hari mereka sebab semua terasa sama.
So, ucapkan terima kasih ke Tuhan karena masih dipertemukan dengan hari Senin dalam keadaan kita memiliki kegiatan bejibun.



*Nb: ini nyuri-nyuri waktu buat curcol di kantor and I have to go*

Sunday, 25 January 2015

Against My Acne with Sari Ayu Intensive Acne Care

Sudah enam bulan, sejak bulan Agustus, wajah saya mengalami jerawatan yang parah pake banget. Berawal dari jerawat kecil-kecil tiap menjelang mens dan keinginan untuk tampil kinclong, secara waktu itu sedang jadi anak baru dan akan dilakukan verifikasi akreditasi oleh KARS kepada institusi tempat saya bekerja. Nah, karena itulah saya ngebet banget buat ilangin jerawat-jerawat itu. Kebetulan, saat itu sedang trend air kemasan spray yang konon katanya bisa buat mengobati jerawat. Dan, akhirnya karena terprovokasi itulah, saya beli air tersebut satu paket yang terdiri dari beauty water dan strong acid water. Hari pertama dan kedua rasa masih asyik-asyik aja. Strong acidnya disemprotin ke wajah saat malam. Saya fokuskan ke wajah yang terdapat jerawatnya. Besoknya, voillaaaa... jerawatnya seperti buah yang diperem pake plastik, MATENG dan terdapat putih-putih. Saya pikir, wah cara kerjanya oke juga nih cepat. Seminggu-dua minggu semua masih baik-baik aja sampai disuatu pagi rekan kantor saya menyapa dengan hangat, "Hai, kok mukanya jadi jerawat semua?" dia tersenyum, ramah banget, "Kamu lagi stress ya? Duh, gak panen jerawat juga kali, say."
#JLEB itu rasanya.
Saya cuma bisa mesam-mesam, tapi hati rasanya tercabik-cabik. Pas ngaca, saya hampir aja melakukan tindakan brutal yakni mecahin kaca tersebut. Mata mau copot begitu sadar pipi kiri dan kanan seperti ladang, iya ladang jerawat. Gede-gede bahkan ada yang mata jerawatnya tiga sekaligus, ketika dipencet yang keluar nanah. Saya gak pernah seumur-umur jerawatan separah itu...

Masalah wajah yang paling berat paling karena kusem masai karena saya gak hobi treatment di salon. Karena itu saya jadi bingung banget ketika menghadapi situasi wajah breakout begitu. Ditambah pengetahuan yang minim, saya meneruskan memakai daycream dan nightcream ber-whitening. Alhamdulillah, jerawat makin subur makin seneng numbuh,

Teman-teman yang prihatin dengan kondisi wajah saya berbaik hati memberika saran seperti, maskeran dengan jeruk nipis (gak tahan perihnya), maskeran tomat (jerawat jadi merah merona malu-malu meong), hingga maskrean kentang (sampe beli 1 kg khusus buat saya maskeran). Hasilnya? NIHIL.

Ketika hampir hopeless, teman menyarankan untuk ke dokter spesialis kulit. Kebetulan saya kerja di rumah sakit jadi saya daftar konsul ke dokter tersebut. Selesai konsul, saya dibekali facial wash, acne cream, acne gel dan obat antibiotik Doxycycline. Dalam hitungan sekitar satu minggu dengan obat tersebut, jerawatnya kering kerontang untuk yang kecil-kecil. Jerawat gedenya bandel banget gak mau kempes. Padahal sudah ikutin saran dokter buat cuci muka max 4 kali sehari. 

Pemakian krim dokter tersebut saya hentikan karena wajah saya terlihat semakin butek dan trio jerawat ukuran medium tidak kunjung kempes. Saya pun ingat seorang teman pernah menyarankan untuk menggunakan produk sari ayu yang intensive acne care atau mukjizat tolak jerawat. Dari hasil referensi dialah saya mulai googling tentang produk tersebut.

Besoknya, saya beli deh produk sari ayu yaitu lotion anti jerawat, masker anti jerawat, intesive acne care, dan facial foam nya.

Pertama-tama di sini saya bahas dulu ya tentang Sari Ayu Intensive Acne Care.

Kemasan produk ini mini hanya seukuran 20ml, botolnya kaca dan gak mudah pecah. Dia ini cocok banget buat ngebasmi jerawat-jerawat gede dan kecil. Saya pakainya menjelang tidur dengan terlebih dahulu mencuci muka. Sebelum digunakan, kocok-kocok terlebih dahulu baru diaplikasikan di wajah. Pada saat mengaplikasikan produk ini tidak boleh langsung pakai tangan, disarankan menggunakan kapas. Kalau saya sih pakainya cutton bud. Pada saat dipakai, wajah tuh rasanya dingin kayak mint lalu lama kelamaan jadi perih. Well, mungkin kerja obatnya kali ya. Sampai saya nangis pakai obat ini. Untung inget dengan kalimat "Beauty is pain" jadi semangat nahan perihnya deh, hehehe. Hasil dari obat ini oke punya. Dalam waktu dua malam, jerawatnya mengempes tanpa ninggalin putih-putih lalu dia mengering. Suka banget sama produk ini. Harganya pun murah, gak bikin kantong bolong bin jebol. Repurchase? Absolutely :D
ini penampakannya,isinya udah mau habis hehe

Sunday, 4 January 2015

Review Film Assalamualaikum Beijing

Pada tanggal 2 Januari 2015 saya akhirnya bisa menonton film yang diangkat dari novel dengan judul sama hasil penulis cantik mba Asma Nadia. Agak menyesal sih karena tidak bisa menontonnya saat premier, tapi gak apa-apa yang penting nonton.

Lalu gimana filmnya?
Sudah jadi rahasia umum jika suatu film diambil dari novel best seller akan ada expektasi berlebih dari pembacanya. Karena, pembaca tersebut sudah sedemikian 'kenal' dengan tokoh-tokoh dalam cerita secara imaji. Ketika membaca novel, tentu kita akan membayangkan 'penampakan' tokoh sesuai dengan deskripsi yang dijelaskan, membayangkan tiap adegan yang terlewati, dll. Nah, hal inilah yang kemudian menjadi tantangan bagi para sineas untuk memuaskan visual penonton dengan ekspektasi tadi. Dan, itu tidak mudah pastinya. Banyak sineas yang sudah memberanikan diri mengangkat suatu novel menjadi film dan mengundang decak kecewa para penontonnya. Film ini menurut saya salah satunya.

Sebagai seseorang yang sudah membaca novelnya, agak mengecewakan jika seorang sineas tidak memperhatikan detil sang tokoh meski itu sepele. Seperti Dewa yang selalu memang Asmara dengan Ra, sedangkan di film Dewa memanggilnya dengan lengkap. Kemudian, pencarian Asma oleh Zhong Wen  dalam film menurut saya kurang greget, karena Zhong Wen berhasil bertemu kembali dengan Asma karena tour guide Asma yang bernama Sunny tidak bisa hadir. Memang sih, sebelumnya di ceritakan jika Zhong Wen berlari mengejar Asma yang sedang didalam bus bersama Sekar tapi selanjutnya kenapa justru Asma pun mencari Zhong Wen? Hal ini seperti menggambarkan jika memang Asma juga ingin bertemu Zhong Wen, sementara dalam novel digambarkan bila Asma tidak menaruh harapan terlalu tinggi pada Zhong Wen.

Kemudian, adegan menyusulnya Dewa ke Beijing membuat film ini seperti tipikal sinetron-sinetron yang banyak tayang di Indonesia. Pertemuan kembali Dewa dan Asmara seharusnya terjadi di rumah Asmara berbarengan dengan kedatangan Zhong Wen yang mendadak. Point ini yang bagi saya membedakan tulisan Asma Nadia berbeda dengan novel cinta yang lain.

Tapi tidak perlu khawatir, karena selalu ada komplinen/pengganti dari sesuatu yang tidak bisa diberi. Sepertinya tim produksi film mengetahui jika mereka tidak bisa full memenuhi harapan penikmat novel Assalamualaikum Beijing karena itu tim memberikan pengganti yang sedikit banyak mampu mengobat kekecewaan kita.

Seperti menyisipkan mengenai islam di negeri china dengan cara yang apik sehingga kita pun mampu berdecak kagum dengan agama tersebut. Juga kehadiran penuh kejutan oleh Morgan Oey. Seperti yang telah diketahui, Morgan Oey memulai kariernya di dunia hiburan dengan tergabung dalam sebuah Boy Band. Pada saat itu, Morgan harus menampilkan image seperti bintang korea dengan gaya yang terkadang membuat kita berpikir kok enggak gentle banget, he he he. Pasti belum terlupakan jika Morgan banyak di timpa berita mengenai orientasi seksnya. Apapun itu, yang jelas penampikan Morgan begitu macho di film ini. Dan, baru saya sadari ternyata Morgan memiliki sorot mata yang tajam. Ia juga terlihat menyatu dengan perannya sebagai Zhong Wen. Aktingnya pun tidak kalah dengan senior-seniornya seperti Revalina, Laudya Cintya Bella, Ibnu Jamil, Desta dan Jajang C Noer. Morgan, tanpa banyak bicara, melalui karya ia mampu membuktikan bila dalam dirinya terdapat kualitas bintang. Good job Morgan!

Kita juga akan dibuat terbawa oleh soundtrack film ini yang berjudul Moving On. Saking terbawa oleh liriknya, saya sampai bertahan di sit bioskop ketika film usai hanya untuk mengetahui SIAPA PENYANYINYA. Yap, kepo to the max pokoknya!

Dan, taraaaaaa... saya pun melongo begitu mengetahui ternyata penyanyinya adalah RIDHO ROMA. iya, Ridho Roma yang itu, yang anaknya Roma Irama. Gak nyangka banget karena dalam lagu tersebut sisa-sisa dangdut dalam dirinya sama sekali tidak terasa. Musik dan liriknya sangat sesuai untuk film ini. Wah, pokoknya TOP Banget deh.

Oke sekian, jangan lupa tonton film ini. Biar pun gak terlalu sesuai dengan novelnya, namun saya tetap merekomendasikan film tersebut. Kenapa? Karena dari film ini kamu bisa belajar mengenai makna cinta yang lebih dalam.


Saturday, 3 January 2015

Selamat Tahun Baru 2015

Akhirnya, setelah sekian lama mengasingkan diri dari rumah ini, blog ini saya pun kembali. Rasanya seperti perantau yang terjebak di kampung orang lalu mendapat kesempatan lagi untuk mudik. Feels like homey, hahahahaha *lebay banget*

Kenapa gak nge-blog?
Kenapa gak nulis?

Mungkin saya terjangkit yang namanya "employee syndrome" yaitu penyakit yang menjangkiti para blogger pengangguran (dulunya) dan kini sudah memiliki pekerjaan. Bukan sombong, tapi hanya merasa lelah untuk kembali berhadapan dengan laptop setelah seharian bertatap muka dengan PC di kantor. Jadi, setelah sampai rumah inginnya tinggal cuci muka, bersih-bersih, kemudian leyeh-leyeh di tempat tidur. Pegang novel pun hanya aksi. Karena nyatanya, novel tersebut bukan dibaca melainkan menutupi wajah karena si pembaca akhirnya tertidur. Ya, ya, ya, itu saya *ngaku*.

Lalu, kenapa sekarang ngeblog lagi?
Sederhana jawabnya, saya kangen dengan blog yang sudah banyak menampung cerita-cerita dalam hidup saya. Tempat yang menjadi saksi berpenggal-penggal pengalaman yang kemudian saya share disini. Terlalu sayang, jika kemudian blog ini hilang begitu saja tanpa pernah ada yang mengingatnya lagi *tsah*.

Kembalinya saya menjenguk 'rumah pinky' ini ditandai dengan merubah namanya. Sebelumnya blog ini dikenal dengan nama "Corat-Coretan", lalu saya rubah menjadi "The Moment". Alasannya, karena yang selama ini saya corat-coret pada blog merupakan penggalan-penggalan masa (momen) dalam hidup saya. Meskipun beberapa bukan, tapi kebanyakan 'ya'.

Namun jangan salah, saya tidak berniat menjadikan blog ini sebagai diary pribadi. Akan saya sortir moment-moment yang memang layak untuk di share dan yang tidak. Jadi kawan-kawan tenang aja, saya gakkan posting hal-hal sepele karena saya bukan artis, hahahaha.

Oke, sebagai penutup paragraf kangen-kangenan ini, saya ingin mengucapkan selamat tahun baru 2015 pada anda semua. Semoga, di tahun ini kita semakin berani menerabas keterbatasan untuk mendapat hasil tak terbatas. Mari, keluarkan mimpi yang masih ada di angan agar ia dapat menjejak alam nyata. Semangat tuk jadi kan resolusi tahun ini menjadi nyata dan tidak hanya ilusi semata.

Salam :-)