Pages

Sunday, 25 January 2015

Against My Acne with Sari Ayu Intensive Acne Care

Sudah enam bulan, sejak bulan Agustus, wajah saya mengalami jerawatan yang parah pake banget. Berawal dari jerawat kecil-kecil tiap menjelang mens dan keinginan untuk tampil kinclong, secara waktu itu sedang jadi anak baru dan akan dilakukan verifikasi akreditasi oleh KARS kepada institusi tempat saya bekerja. Nah, karena itulah saya ngebet banget buat ilangin jerawat-jerawat itu. Kebetulan, saat itu sedang trend air kemasan spray yang konon katanya bisa buat mengobati jerawat. Dan, akhirnya karena terprovokasi itulah, saya beli air tersebut satu paket yang terdiri dari beauty water dan strong acid water. Hari pertama dan kedua rasa masih asyik-asyik aja. Strong acidnya disemprotin ke wajah saat malam. Saya fokuskan ke wajah yang terdapat jerawatnya. Besoknya, voillaaaa... jerawatnya seperti buah yang diperem pake plastik, MATENG dan terdapat putih-putih. Saya pikir, wah cara kerjanya oke juga nih cepat. Seminggu-dua minggu semua masih baik-baik aja sampai disuatu pagi rekan kantor saya menyapa dengan hangat, "Hai, kok mukanya jadi jerawat semua?" dia tersenyum, ramah banget, "Kamu lagi stress ya? Duh, gak panen jerawat juga kali, say."
#JLEB itu rasanya.
Saya cuma bisa mesam-mesam, tapi hati rasanya tercabik-cabik. Pas ngaca, saya hampir aja melakukan tindakan brutal yakni mecahin kaca tersebut. Mata mau copot begitu sadar pipi kiri dan kanan seperti ladang, iya ladang jerawat. Gede-gede bahkan ada yang mata jerawatnya tiga sekaligus, ketika dipencet yang keluar nanah. Saya gak pernah seumur-umur jerawatan separah itu...

Masalah wajah yang paling berat paling karena kusem masai karena saya gak hobi treatment di salon. Karena itu saya jadi bingung banget ketika menghadapi situasi wajah breakout begitu. Ditambah pengetahuan yang minim, saya meneruskan memakai daycream dan nightcream ber-whitening. Alhamdulillah, jerawat makin subur makin seneng numbuh,

Teman-teman yang prihatin dengan kondisi wajah saya berbaik hati memberika saran seperti, maskeran dengan jeruk nipis (gak tahan perihnya), maskeran tomat (jerawat jadi merah merona malu-malu meong), hingga maskrean kentang (sampe beli 1 kg khusus buat saya maskeran). Hasilnya? NIHIL.

Ketika hampir hopeless, teman menyarankan untuk ke dokter spesialis kulit. Kebetulan saya kerja di rumah sakit jadi saya daftar konsul ke dokter tersebut. Selesai konsul, saya dibekali facial wash, acne cream, acne gel dan obat antibiotik Doxycycline. Dalam hitungan sekitar satu minggu dengan obat tersebut, jerawatnya kering kerontang untuk yang kecil-kecil. Jerawat gedenya bandel banget gak mau kempes. Padahal sudah ikutin saran dokter buat cuci muka max 4 kali sehari. 

Pemakian krim dokter tersebut saya hentikan karena wajah saya terlihat semakin butek dan trio jerawat ukuran medium tidak kunjung kempes. Saya pun ingat seorang teman pernah menyarankan untuk menggunakan produk sari ayu yang intensive acne care atau mukjizat tolak jerawat. Dari hasil referensi dialah saya mulai googling tentang produk tersebut.

Besoknya, saya beli deh produk sari ayu yaitu lotion anti jerawat, masker anti jerawat, intesive acne care, dan facial foam nya.

Pertama-tama di sini saya bahas dulu ya tentang Sari Ayu Intensive Acne Care.

Kemasan produk ini mini hanya seukuran 20ml, botolnya kaca dan gak mudah pecah. Dia ini cocok banget buat ngebasmi jerawat-jerawat gede dan kecil. Saya pakainya menjelang tidur dengan terlebih dahulu mencuci muka. Sebelum digunakan, kocok-kocok terlebih dahulu baru diaplikasikan di wajah. Pada saat mengaplikasikan produk ini tidak boleh langsung pakai tangan, disarankan menggunakan kapas. Kalau saya sih pakainya cutton bud. Pada saat dipakai, wajah tuh rasanya dingin kayak mint lalu lama kelamaan jadi perih. Well, mungkin kerja obatnya kali ya. Sampai saya nangis pakai obat ini. Untung inget dengan kalimat "Beauty is pain" jadi semangat nahan perihnya deh, hehehe. Hasil dari obat ini oke punya. Dalam waktu dua malam, jerawatnya mengempes tanpa ninggalin putih-putih lalu dia mengering. Suka banget sama produk ini. Harganya pun murah, gak bikin kantong bolong bin jebol. Repurchase? Absolutely :D
ini penampakannya,isinya udah mau habis hehe

Sunday, 4 January 2015

Review Film Assalamualaikum Beijing

Pada tanggal 2 Januari 2015 saya akhirnya bisa menonton film yang diangkat dari novel dengan judul sama hasil penulis cantik mba Asma Nadia. Agak menyesal sih karena tidak bisa menontonnya saat premier, tapi gak apa-apa yang penting nonton.

Lalu gimana filmnya?
Sudah jadi rahasia umum jika suatu film diambil dari novel best seller akan ada expektasi berlebih dari pembacanya. Karena, pembaca tersebut sudah sedemikian 'kenal' dengan tokoh-tokoh dalam cerita secara imaji. Ketika membaca novel, tentu kita akan membayangkan 'penampakan' tokoh sesuai dengan deskripsi yang dijelaskan, membayangkan tiap adegan yang terlewati, dll. Nah, hal inilah yang kemudian menjadi tantangan bagi para sineas untuk memuaskan visual penonton dengan ekspektasi tadi. Dan, itu tidak mudah pastinya. Banyak sineas yang sudah memberanikan diri mengangkat suatu novel menjadi film dan mengundang decak kecewa para penontonnya. Film ini menurut saya salah satunya.

Sebagai seseorang yang sudah membaca novelnya, agak mengecewakan jika seorang sineas tidak memperhatikan detil sang tokoh meski itu sepele. Seperti Dewa yang selalu memang Asmara dengan Ra, sedangkan di film Dewa memanggilnya dengan lengkap. Kemudian, pencarian Asma oleh Zhong Wen  dalam film menurut saya kurang greget, karena Zhong Wen berhasil bertemu kembali dengan Asma karena tour guide Asma yang bernama Sunny tidak bisa hadir. Memang sih, sebelumnya di ceritakan jika Zhong Wen berlari mengejar Asma yang sedang didalam bus bersama Sekar tapi selanjutnya kenapa justru Asma pun mencari Zhong Wen? Hal ini seperti menggambarkan jika memang Asma juga ingin bertemu Zhong Wen, sementara dalam novel digambarkan bila Asma tidak menaruh harapan terlalu tinggi pada Zhong Wen.

Kemudian, adegan menyusulnya Dewa ke Beijing membuat film ini seperti tipikal sinetron-sinetron yang banyak tayang di Indonesia. Pertemuan kembali Dewa dan Asmara seharusnya terjadi di rumah Asmara berbarengan dengan kedatangan Zhong Wen yang mendadak. Point ini yang bagi saya membedakan tulisan Asma Nadia berbeda dengan novel cinta yang lain.

Tapi tidak perlu khawatir, karena selalu ada komplinen/pengganti dari sesuatu yang tidak bisa diberi. Sepertinya tim produksi film mengetahui jika mereka tidak bisa full memenuhi harapan penikmat novel Assalamualaikum Beijing karena itu tim memberikan pengganti yang sedikit banyak mampu mengobat kekecewaan kita.

Seperti menyisipkan mengenai islam di negeri china dengan cara yang apik sehingga kita pun mampu berdecak kagum dengan agama tersebut. Juga kehadiran penuh kejutan oleh Morgan Oey. Seperti yang telah diketahui, Morgan Oey memulai kariernya di dunia hiburan dengan tergabung dalam sebuah Boy Band. Pada saat itu, Morgan harus menampilkan image seperti bintang korea dengan gaya yang terkadang membuat kita berpikir kok enggak gentle banget, he he he. Pasti belum terlupakan jika Morgan banyak di timpa berita mengenai orientasi seksnya. Apapun itu, yang jelas penampikan Morgan begitu macho di film ini. Dan, baru saya sadari ternyata Morgan memiliki sorot mata yang tajam. Ia juga terlihat menyatu dengan perannya sebagai Zhong Wen. Aktingnya pun tidak kalah dengan senior-seniornya seperti Revalina, Laudya Cintya Bella, Ibnu Jamil, Desta dan Jajang C Noer. Morgan, tanpa banyak bicara, melalui karya ia mampu membuktikan bila dalam dirinya terdapat kualitas bintang. Good job Morgan!

Kita juga akan dibuat terbawa oleh soundtrack film ini yang berjudul Moving On. Saking terbawa oleh liriknya, saya sampai bertahan di sit bioskop ketika film usai hanya untuk mengetahui SIAPA PENYANYINYA. Yap, kepo to the max pokoknya!

Dan, taraaaaaa... saya pun melongo begitu mengetahui ternyata penyanyinya adalah RIDHO ROMA. iya, Ridho Roma yang itu, yang anaknya Roma Irama. Gak nyangka banget karena dalam lagu tersebut sisa-sisa dangdut dalam dirinya sama sekali tidak terasa. Musik dan liriknya sangat sesuai untuk film ini. Wah, pokoknya TOP Banget deh.

Oke sekian, jangan lupa tonton film ini. Biar pun gak terlalu sesuai dengan novelnya, namun saya tetap merekomendasikan film tersebut. Kenapa? Karena dari film ini kamu bisa belajar mengenai makna cinta yang lebih dalam.


Saturday, 3 January 2015

Selamat Tahun Baru 2015

Akhirnya, setelah sekian lama mengasingkan diri dari rumah ini, blog ini saya pun kembali. Rasanya seperti perantau yang terjebak di kampung orang lalu mendapat kesempatan lagi untuk mudik. Feels like homey, hahahahaha *lebay banget*

Kenapa gak nge-blog?
Kenapa gak nulis?

Mungkin saya terjangkit yang namanya "employee syndrome" yaitu penyakit yang menjangkiti para blogger pengangguran (dulunya) dan kini sudah memiliki pekerjaan. Bukan sombong, tapi hanya merasa lelah untuk kembali berhadapan dengan laptop setelah seharian bertatap muka dengan PC di kantor. Jadi, setelah sampai rumah inginnya tinggal cuci muka, bersih-bersih, kemudian leyeh-leyeh di tempat tidur. Pegang novel pun hanya aksi. Karena nyatanya, novel tersebut bukan dibaca melainkan menutupi wajah karena si pembaca akhirnya tertidur. Ya, ya, ya, itu saya *ngaku*.

Lalu, kenapa sekarang ngeblog lagi?
Sederhana jawabnya, saya kangen dengan blog yang sudah banyak menampung cerita-cerita dalam hidup saya. Tempat yang menjadi saksi berpenggal-penggal pengalaman yang kemudian saya share disini. Terlalu sayang, jika kemudian blog ini hilang begitu saja tanpa pernah ada yang mengingatnya lagi *tsah*.

Kembalinya saya menjenguk 'rumah pinky' ini ditandai dengan merubah namanya. Sebelumnya blog ini dikenal dengan nama "Corat-Coretan", lalu saya rubah menjadi "The Moment". Alasannya, karena yang selama ini saya corat-coret pada blog merupakan penggalan-penggalan masa (momen) dalam hidup saya. Meskipun beberapa bukan, tapi kebanyakan 'ya'.

Namun jangan salah, saya tidak berniat menjadikan blog ini sebagai diary pribadi. Akan saya sortir moment-moment yang memang layak untuk di share dan yang tidak. Jadi kawan-kawan tenang aja, saya gakkan posting hal-hal sepele karena saya bukan artis, hahahaha.

Oke, sebagai penutup paragraf kangen-kangenan ini, saya ingin mengucapkan selamat tahun baru 2015 pada anda semua. Semoga, di tahun ini kita semakin berani menerabas keterbatasan untuk mendapat hasil tak terbatas. Mari, keluarkan mimpi yang masih ada di angan agar ia dapat menjejak alam nyata. Semangat tuk jadi kan resolusi tahun ini menjadi nyata dan tidak hanya ilusi semata.

Salam :-)