Pages

Thursday, 10 December 2015

#DearMama: BIRU PADA DIRIMU


PROLOG
Lelah.
Satu kata yang engkau enyahkan pada hidupmu selamanya. Sebab, bila kata tersebut tersirat, meski hanya satu kali, bisa berakibat melemahkan untukmu. Sedangkan menjadi sosok lemah, bukanlah sebuah pilihan dalam kehidupanmu sekarang maupun masa akan datang.
Keluasan hati, hal yang selalu kau pupuk setiap hari. Demi kumpulan manusia-manusia menyebalkan yang akan selalu pulang kepadamu, meski baru saja berikan umpatan menyakitkan. Yaitu;
Suamimu.
Serta, anak-anakmu.
Sabtu.
Samar-samar kutatap jam dinding yang tergantung di atas meja belajar. Kukucek-kucek mata demi mendapat pandangan yang jelas.
Masih pukul 06.25 WIB.
Aku bersiap untuk melanjutkan tidur. Kadang, kita memang perlu mengalokasikan satu hari untuk sedikit menyia-nyiakan waktu pagi. Baru saja aku akan terpejam, pekikan seorang wanita dari kamar tidur yang tepat bersebelahan dengan kamarku, membuatku terlonjak dari kasur. Berdiri tegak-tegak di atas keramik putih yang merupakan lantai kamarku. Mataku nyalang mengawasi keadaan sekitar kamar, seakan meminta nyawa-nyawaku yang masih melayang-layang untuk secepatnya kembali masuk pada ragaku. Lalu, kupasang telingaku baik-baik. Pekikan itu berubah cepat menjadi lengkingan tajam dan memilukan.
Itu adalah suara Ibu.
Membabi buta kubuka pintu kamarku dan menghambur kedalam kamarnya. Tak ada ketuk pintu, masa bodo dengan permisi dan sopan santun. Aku hanya ingin mengetahui apa yang sedang terjadi. Sambil merapal doa-doa yang untungnya sedikit banyak masih tersangkut di memori otakku, bertindih-tindih dengan ingatanku tentang mantan, film-film Hollywood, drama korea hingga lirik lagu.
Di lantai keramik nan dingin, Ibuku terduduk dengan air mata bercucuran. Telepon genggam menempel di telinganya.
“Kapan, Ri?” isaknya kian kencang, ia menoleh menatapku lalu berusaha berdiri. “Mbah Kakung nggak ada...” kemudian Ibu berusaha melewatiku dan keluar dari kamar.
Aku mengikutinya hingga ke bagian belakang rumah. Dari mulutnya terdengar ia bergumam memanggil-manggil Ayahnya yang telah pergi. Lalu, ketika Ibu sudah berhadapan dengan Papa, ia kembali merosot lantai.
“Bapak meninggal pagi ini.” Raung Ibu dengan wajah dibenamkan diantara lututnya. Tangan kanannya menyerahkan ponsel miliknya pada Papa. Pria yang rambutnya telah dipenuhi uban itu mengelus-elus puncak kepala Ibu. Berusaha menenangkan wanita yang telah menjadi istrinya selama kurang-lebih dua puluh enam tahun.
Kemudian, Papa menyingkir dari hadapan Ibu dengan membawa ponsel miliknya. Sayup-sayup kudengar suara Papa yang mengucapkan bela sungkawa dan mengatakan untuk segera menguburkan jenazah tanpa perlu menunggu kehadiran kami.
“Jarak rumah kita terlalu jauh.” Kata Papa saat Ibu menatapnya seakan meminta jawaban.
Ya, akan butuh waktu lama dari Tangerang menuju Magelang. Aku yakin Ibu paham itu. Namun, tampaknya Ibu sedang tidak bisa menguasai secara penuh dirinya. Kini, ia kembali menangis tersedu-sedan. Aku menatapnya dan merasa tidak asing dengan seluruh cuplikan yang baru saja terjadi di hadapanku.
Wajah kehilangan Ibu, aku pernah melihatnya di wajahku ketika kehilangan mainan kesayanganku. Dan, Ibu memelukku, membujuk agar aku tenang.
Deras air matanya. Sederas saat aku tersedu pilu setelah dibully teman-teman sekolahku ketika SD. Dan, Ibu memelukku, membujuk agar aku tenang.
Jeritan kehilangan. Suara yang sama pernah keluar dari mulutku ketika disatu Lebaran kami harus mudik ke Magelang hanya berdua, meninggalkan Papa yang tidak mendapat cuti dari kantor. Dan, Ibu memelukku, membujuk agar aku tenang.
Begitu sering aku mengadu padanya tentang kesedihanku, lalu Ibu seakan mengabaikan kesedihannya, kemalanganya, nelangsa hatinya, menutupi semuanya hanya untuk menghiburku dan melihatku kembali tenang.
Menghapuskan air mataku dengan tangannya, sedangkan tak pernah terpikir olehku berapa sering ia gunakan tangan yang sama untuk menyeka air matanya diam-diam.
Menggunakan pelukannya agar aku dapat lupakan kesedihanku tanpa pernah tahu bagaimana perasaannya yang sebenar-benarnya.
Ah, bodohnya aku.
Wanita yang melahirkan aku dua puluh lima tahun lalu, saat ini sedang berada dalam titik terendah dalam hidupnya. Baru kali ini, kan, aku melihat Ibu sesedih sekarang?
Kutepiskan rasa ragu. kuraih tangannya yang mulai menua dan berkerut. Lalu, kubawa ia dalam pelukanku sebagaimana dulu ia selalu memelukku.
Mengusap punggungnya dengan harapan ia segera merasa baikan, seperti yang kurasa setiap kali tangannya membelai lembut punggungku.
Mendengarkan kala ia mengutarakan permintaan maafnya sebab tak hadir dalam detik-detik terakhir kehidupan Ayah kandungnya. sama seperti ia mendengarku menyebut-nyebut Papa ketika bus akan melaju dan menegaskan jarak yang akan membentang di antara kami meski hanya sementara.
‘Maaf, Bu... Mungkin hangat pelukku tidak akan sehangat yang pernah kau beri untukku.
Maaf, Bu... Berada dalam pelukku mungkin tidak senyaman seperti saat aku yang ada dalam pelukmu.
Maaf, Bu... Untuk tidak bisa berkata jika semua baik-baik saja. Lidah ini menjadi kelu ketika sepasang mataku menjadi saksi atas kehilangan yang kau rasa.’ ucapku dalam hati,
Tapi ketahuilah... saat ini, hanya pelukku yang mewakili betapa engkau sangat berarti dan sedihmu merupakan pukulan telak bagi kami, anak-anakmu.
Maaf, Bu...
Lalu, aku memapah Ibu menuju kamarnya dan kemudian mempersiapkan segala hal yang perlu dibawa untuk perjalanan darat menuju Magelang. Dan, Ibu hanya meringkuk, melanjutnya senandung pilunya atas kepergian Ayahnya tercinta.
EPILOG
Kutahan nafasku sepagi ini saat tukang ojek yang mengantarku bertanya, “Ibu masih di Magelang, Mbak?”
Tahun 2015 loh ini... masa nggak tahu sikat gigi sih!’ Omelku dalam hati.
“Iya, masih.” kujawab singkat pertanyaannya.
Kepalanya yang tidak kalah bau mengangguk-angguk. “Nunggu sampai tujuh hari kali, ya?”
“Mungkin.” Kali ini aku terpaksa sedikit menjauhkan kepalaku darinya. Mual sudah mencium bau mulutnya.
“Tahun baru kemana, Mbak? Jalan dong sama pacarnya?”
Aku tersenyum, meski kutahu pasti jika tukang ojek itu takkan bisa melihatku. Lalu dengan mantap aku menjawab.
“Mau tahun baruan sama Ibu-Bapak dan adik-adik aja, Mang. Mau puas-puasin sama mereka dulu mumpung masih pada sehat, jadi gampang untuk diajak kemana-mana. Nanti, kalau mereka sudah tua dan sakit-sakitan akan repot. Jangankan jalan-jalan, buat duduk saja mungkin harus dibantu.”
Tukang ojek itu tertawa, “Ah... kalau sama orang tua akan terbatas dong, Mbak. Mau kesana-kemarinya nggak enak.”
“Biarin.” Jawabku pendek.


Sebab, kita gak pernah tahu kapan Tuhan memerintahkan malaikatnya untuk membawa pulang salah satu dari kita kembali kehadapanNya. Dan, umur manusia tidak diukur dengan matematika yang diajarkan oleh sekolah. Siapa saja dapat kembali dengan cara dan waktu tanpa bisa diduga. Untuk itu, dalam waktu yang semakin mendewasakan umurku, sekaligus menuakan orang tuaku, dan sebelum semuanya terlambat, aku ingin banyak menghasilkan kenangan bersama mereka sebanyak-banyaknya...’

***
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DearMama yang diselenggarakan Nulisbuku.com dan Storial.co

No comments: