Pages

Monday, 4 January 2016

HAPPY DAY: Catatan Liburan Singkat Penghilang Penat


“Besok jalan yuk, Un.”
Ajakan Fadilla terdengar seperti aliran air di sebuah gurun, menyenangkan sekaligus menyegarkan. Aku segera menyambutnya dengan semangat, lupa dengan fakta jika dihadapanku ada setumpuk data yang harus diinput.
“Kemana? Kapan?”
“Semangat banget, Non. Besok aja mumpung tanggal merah.” Fadilla berpikir sejenak, “Ada ide gak, lo? Selain ke mall ya...”
Cewek yang sudah kukenal sejak bangku kuliah ini memang gak terlalu suka ke mall seperti lazimnya cewek pada umumnya. Mungkin hal inilah yang membuat kita berdua cocok. Tapi, bukan berarti kita anti nge-mall, sesekali kami juga main kesana jika diperlukan.
“Apa ya, Dil? Buntu nih otak gue.” Aku memindahkan ponsel dari telinga kiri ke telinga kanan, menatap layar PC dengan tatapan menyalahkan telah membuat pikiranku mampet.
“Hm, ke Kebun Raya Bogor aja, Un! Mau gak?” Ide Fadilla. Suaranya terdengar begitu ceria, aku seakan-akan bisa melihat cewek gempal itu melonjak senang.
“Boleh tuh, Dil! Sesekali anak Bogor pinggiran kayak gue main ke Bogor Kota.” Fadilla tergelak mendengar ucapanku. Dia memang kerap menyebutku anak Bogor pinggiran sebab tinggal di wilayah Kabupaten Bogor yang justru lebih dekat dengan Tangerang dibanding ke daerah Bogor.
Sesi telpon kami sudahi setelah menyepakati jam dan lokasi pertemuan. Anehnya, rencana liburan itu membuatku semangat melanjutkan pekerjaan yang sebelumnya kulakukan dengan sisa tenaga. Mood booster sekali!
**
Jumat siang, aku dan Fadilla telah bertemu di Parung. Kami menaiki bus tujuan Bogor yang masih tampak sepi. Inilah asyiknya pergi bareng Fadilla, cewek ini gak ribet dengan kendaraan apapun yang akan kita naiki. Yang penting, kendaraan tersebut aman dan dapat membawa kita ke tempat tujuan.
Perjalanan kami lancar dan hanya dihadang oleh macet yang gak begitu parah. Obrolan ngalor-ngidul yang seakan tanpa batas membuat perjalanan ini semakin menyenangkan sehingga tidak terasa kami sudah sampai di depan Tugu Kujang. Setelah mengucapkan kata sakti, “Kiri”, aku dan Fadilla turun dari bus.
Berdiri di trotoar Kota Bogor dengan pemandangan Tugu Kujang di sebrang jalan dan gedung Hotel Santika membuatku merasa kecil dan tiba-tiba seperti norak. Iya, seakan-akan aku belum pernah melihat gedung seumur hidup. Padahal, biar pun tinggal di pinggiran Bogor, aku kerap bolak-bolak ke Tangerang untuk urusan pekerjaan. Di sana pun juga banyak gedung-gedung. Namun, entah kenapa rasanya berbeda menatap gedung-gedung di Kota Bogor dengan di Tangerang.
“Lo foto dulu, tuh, Tugu Kujangnya. Buat bukti kalo elo ke sini.” Perintah Fadilla padaku.
Segera kunyalakan ponsel yang diperjalanan tadi sengaja kumatikan untuk menghemat baterai. Setelah itu, beberapa potret Tugu Kujang dengan latar gedung tinggi dan awan putih yang cantik berhasil ku abadikan.
“Udah?” tanya Fadilla. Dia mengamit lenganku, “Kita nyebrang lewat situ, Un.” tunjuknya.
“Tapi orang-orang itu lewat atas, Dil.” Tunjukku pada sekumpulan orang yang menyebrang melintas jalan raya sementara di samping mereka terdapat papan pengumuman bahwa untuk penyebrang jalan lewat penyebrangan underpass.
Tidak sabaran, Fadilla setengah menyeretku, “Biarin aja. Kita lewat situ, lebih aman.”
Nyanyian yang dibawakan oleh sekelompok musisi jalanan menyambutku dan Fadilla. Membuat suasana remang di dalam terowongan lebih bersahabat dan menyenangkan. Sisi kanan-kiri dinding terowongan dihiasi oleh foto-foto yang memajang info mengenai Kota Bogor. Sebelum menuju pintu keluar kita akan melihat sebuah panggung kecil dilapisi karpet hijau, dihiasi oleh ornamen menyerupai Tugu Kujang yang terbuat dari kayu. Diatas panggung diletakkan sebuah papan berisi ucapan selamat tahun baru 2016 lengkap dengan foto Walikota Bogor dan Wakil Walikota Bogor. Tidak afdol rasanya jika tidak mengabadikan diri di belakang hiasan tersebut. Hal itu yang kulakukan bersama Fadilla, setelah memastikan kondisi terowongan agak sepi.
Dari terowongan penyebrangan, aku dan Fadilla berjalan menuju pintu utama Kebun Raya Bogor yang berjarak cukup dekat. Naungan pohon rindang di sisi kanan - kiri, serta lebarnya trotoar membuat nyaman pejalan kaki yang melintas, termasuk kami berdua. Satu hal yang tidak akan ditemukan di daerah pinggiran Bogor seperti, Parungpanjang.
Sebelum masuk dan mulai bertualang di dalam Kebun Raya Bogor, kami menikmati makan siang lebih dulu. Tidak perlu jauh-jauh, kami berdua membeli dua porsi Soto Mie yang dijual tepat di muka gerbang utama. Uniknya, meski pun sering menyantap Soto Mie dibanyak dijual di Tangerang, tetapi Soto Mie asli Bogor memiliki rasa yang beda. Lebih segar dan lebih enak. Aku juga membeli satu buah rujak untuk bekal di dalam nanti.
Untuk bisa masuk ke kawasan Kebun Raya Bogor, kami harus membeli tiket terlebih dahulu. Harganya cukup terjangkau, hanya Rp.14.000/orang dan setelah itu kita bisa mengitari seluruh arel Kebun Raya Bogor yang luasnya mencapai 87 hektar, dan melihat 15.000 jenis pohon yang dikoleksi di sana.
Meski pun aku dan Fadilla memulai perjalanan di dalam areal Kebun Raya Bogor sudah cukup siang, namun karena banyak pohon rindang suasana di dalam pun jadi adem. Nyaman untuk jalan kaki bersama teman-teman, keluarga, hingga pasangan. Jiwa narsisku dan Fadilla pun terusik oleh keindahan suasana di dalamnya. Kami berdua, dengan lumayan tidak tahu malu berpose setiap menemukan spot bagus.
“Cuek aja, Un, di sini gak ada yang kenal sama kita kok!” begitu kilah Fadilla setiap melihat tampangku yang malu-malu tapi mau diajak foto.
Perasaan masygul untuk selfie hadir saat kami hendak melintas jembatan merah. Sebelum naik ke jembatan tersebut, aku melihat sebuah papan pengumuman yang memberi-tahu jumlah maksimal orang yang melintas adalah sepuluh orang. Kenyataannya, ada lebih dari sepuluh orang di atas jembatan tersebut. Sebagian orang memang berniat untuk menyebrang, sebagian lainnya berhenti di tengah jembatan demi potret yang memukau. Aku menelan ludah, menatap pada derasnya arus sungai Cisadane-Ciliwung yang membelah Kebun Raya Bogor dan bebatuan besar di bawahnya. Otakku mulai membayangkan hal-hal yang aneh. Terlebih melihat bagaimana jembatan tersebut bergoyang tiap ada pengunjung yang melintas, semakin meningkatkan perasaan paranoidku.
“Takut ya, Un?” tanya Fadilla.
Aku menoleh padanya dan mendapati bagaimana wajah Fadilla tampak aneh memandangku dengan sungai bergantian. “Ngeri, Un, maksimal kan buat sepuluh orang tapi itu rame banget.” Fadilla melanjutkan kalimatnya yang selaras dengan pikiranku.
“Iya, Dil, arusnya deres loh.”
“Kita gak usah selfie di jembatan, ya. Kasian yang pada mau lewat.” Usul Fadilla yang langsung kusambut dengan baik.
Dengan tekad kuat supaya bisa sampai ke sebrang, kami pun memaksakan keberanian di dalam diri  dan mulai meniti jembatan itu. Tidak terasa, sepanjang kami berjalan di atas jembatan, Fadilla memegang erat lenganku. Sementara aku, menjaga fokus mata agar tidak menatap pada liukan air sungat di bawah kami. Ketika akhirnya kedua kaki kami sampai di sebrang, perasaan lega memenuhi seluruh perasaan kami.
Waktu sudah semakin sore, berpuluh-puluh foto selfie pun telah kami dapatkan. Kedua kaki kami juga telah berteriak-teriak minta diistirahatkan. Maka, dengan es krim ditangan, aku dan Fadilla memutuskan untuk menyelesaikan perjalanan.
Ada hal menarik yang kami temukan disepanjang jalan, yaitu fakta bahwa pepohonan koleksi Kebun Raya Bogor telah tua. Beberapa bahkan telah retak, hingga diberi pengaman oleh pihak manajemen agar tidak ada pengunjung yang mendekat. Pastinya jika bisa bicara, pohon-pohon ini akan mampu menjabarkan peristiwa-peristiwa yang telah mereka saksikan.
**
“Seger Dil mata dan pikiran gue akhirnya.” kataku ketika kami berdua bersantai di Lotteria Botani Square, makan sekaligus mengecharge baterai ponsel yang drop.
“Iya, rutinitas kantor emang nyita waktu. Lumayanlah jalan-jalan gak perlu jauh, yang penting bikin hepi, ya gak?”
Aku mengangguk, “Eh, ini orang-orang sekarang tuh kalo masuk resto gak selalu cari makanan ya? Tapi juga nyari ada tempat buat nge-charge atau gak. Tuh, lo liat deh orang-orang itu.” Menggunakan dagu, kutunjuk sekelompok remaja yang masuk ke dalam resto sambil menunduk, memeriksa colokan yang tersedia disetiap meja.
Fadilla tertawa, “Tren baru nih. Resto dengan banyak colokan kayaknya bakal laku.”
Aku mengangguk setuju. Kami meluruskan kaki yang lelah sesudah mengelilingi Kebun Raya Bogor. Bersantai sejenak menikmati hiruk pikuk di dalam Botani Square sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Pegal, kaki kencang, mulai terasa menjalari tubuh. Maklum, aku tidak terbiasa berjalan sejauh itu. Namun anehnya, semua kelelahan tersebut ampuh mengusir penat dipikiranku. Satu hal yang kusimpulkan hari ini, jalan-jalan menikmati suguhan alam di Indonesia meski tidak terlalu jauh merupakan cara jitu dalam menghabiskan waktu liburan singkat. 

=================================================================
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #Jalan2INDONESIA yang diselenggarakan Nulisbuku.comStorial.co, dan Walk Indies.

No comments: