Pages

Saturday, 2 January 2016

MENERTAWAKAN HIDUP SEORANG ERNEST PRAKASA

Ernest Prakasa, seorang Komika jebolan ajang Stand Up Comedy Indonesia disebuah stasiun TV swasta, akhirnya melebarkan kemampuannya dibidang entertaiment. Peraih juara ketiga yang tercatat sebagai Komika pertama yang mengadakan tour stand up comedy ke 11 kota di Indonesia ini memang 'haus' akan prestasi dan pencapaian. 

Sebut saja, setelah mengadakan tour, ia pun mengadakan sebuah pertunjukan Stand Up khusus bersama para komedian yang berasal dari campuran etnis Tionghoa-Indonesia dengan tajuk "Ernest Prakasa dan The Oriental Bandits". Setelah itu, ia menggelar Tour Kedua yang berjudul "Illucinati", plesetan dari Illuminati. Seakan tidak puas dengan semua itu, Ernest Prakasa juga menulis buku yaitu: "Dari Merem Ke Melek: Catatan Seorang Komedian", "Ngenest- Ngetawain Hidup Ala Ernest", Ngenest 2- Ngetawain Hidup Ala Ernest", Ngenest 3 - Ngetawain Hidup Ala Ernest." 
Kalau soal buku, mungkin hasil tulisan Ernest menurut saya, gak se-booming karya Raditya Dika (atau saya aja yang kuper, gak tau perkembangan bukunya Koh Ernest Hehehe). Tapi, salutnya orang ini tidak kenal kata "Menyerah", ia terus belajar dan belajar. Hingga akhirnya 'berani' mem-filmkan bukunya sendiri.

SINOPSIS

Kalau yang sudah baca trilogi Ngenest sampai tamat, pasti sudah tahu cerita dari film ini. Secara konten, cerita pada film ini gak bisa dibilang sederhana. Bukan 'cuma' membahas bagaimana hidup sebagai seorang minoritas di Indonesia, tetapi juga mengangkat hal-hal sederhana yang sering kita anggap sepele. Dan, membahasnya dengan apik sehingga tidak terasa menyindir siapa pun. 

Cerita dimulai dengan apik melalui line yang secara halus mengingatkan kita bahwa manusia lahir tanpa bisa memilih sebagai apa dan di mana. Termasuk jadi seorang anak yang lahir dari orang tua keturunan Cina. Lalu berlanjut dengan kehidupan sehari-hari Ernest kecil di SD yang sering di bully oleh teman-teman pribumi, gimana dia dipalak hingga kenalan dengan sahabatnya Patrick dan akhirnya semua 'trauma-trauma' itu menghasilkan satu kesimpulan yang rada aneh sebenarnya, yaitu: Menikah dengan pribumi agar keturunanya kelak tidak di bully hanya karena ia bermata sipit.


JALAN CERITA

Alur dibuat maju menggunakan point of view dari orang pertama, yaitu Ernest Prakasa sendiri. Selama perjalanan, film ini sungguh memiliki komitmen komedi di dalamnya yang ampuh membuat penonton terpingkal hingga perut kram. Hal-hal sederhana seperti ketika Ernest datang ke rumah Meira, berantemnya Ernest dengan Franda,  ketika Ayah Meira sempat gak suka dengan Ernest, hingga lagi ribut besar sama Meira pun bisa-bisanya ngebikin penonton tergelak. Terlihat sekali bagaimana Ernest dengan team-nya jeli menyelipkan unsur-unsur komedi yang sulit ditebak. Gila banget komedinya di sini!

Tapi, meski konten utamanya adalah komedi, Ernest sebagai sutradara tidak lupa menyelipkan 'kuote' tentang hidup melalui tokoh Patrick. Ada banyak pemikiran yang dikemukakan oleh Patrick yang diperankan oleh Morgan Oey, bikin saya sebagai penonton ber'Oh iya' dan membuka pikiran tanpa merasa diceramahi. Salah satu kuote dari Patrick yang menjadi favorit saya adalah: 'Waktu yang ditunda hari ini, kita pinjam dari waktu dimasa depan kita sendiri' (kurang lebih begitu, agak lupa, maap heheh). 

Sosok Meira juga dimainkan secara apik oleh Lala Karmela yang lebih dikenal sebagai penyanyi. Chemistry yang dibangunnya bersama Ernest benar-benar hidup. Gak sia-sia dia sampai nginep di kediaman Ernest dan istri demi bisa mengenal lebih dekat sosok Meira asli.

Unsur drama pada film ini terasa kuat ketika Ernest yang belum siap menjadi orang tua terus menunda punya anak, meski sang istri telah siap. Ketakutan Ernest sebenarnya memiliki dasar yang kuat, yaitu tidak ingin anaknya mengalami bully seperti yang kerap ia alami ketika kecil. Namun, Ernest akhirnya luluh setelah Meira pergi ninggalin dia dan pulang ke rumah duluan naik bajaj. Di adegan ini, kalau yang nontonnya seorang jomblo akut, pasti bakalan envy. Sebab, meski wajahnya agak konyol, tapi Ernest berhasil membuat penonton ikut merasakan bagaimana rasa sayangnya terhadap sang istri, Meira, hingga akhirnya ia setuju untuk memiliki anak. 

Tim produksi film Ngenest sepertinya juga telah belajar banyak dari film-film Indonesia lain dalam penempatan sponsor. Di film ini, produk sponsor disisipi dengan cara halus dan tidak mencolok hingga terlihat seperti 'property' biasa yang digunakan untuk keperluan film.

Sepanjang film berlangsung, sulit menemukan hal-hal absurb yang membuat kita dengan mudahnya menemukan kekurangan di film ini. Penonton akan selalu disibukkan dengan tawa, dan keingintahuan terhadap kelanjutan cerita. Sayangnya, karena belum membaca buku Ngenest satupun (berharap dapat gratisan dari Koh Ernest + TTDnya ahahaha), saya jadi gak bisa membandingkan cerita dibuku dengan yang di film. Mungkin teman-teman yang sudah baca, bisa memberi tahu saya apakah ada perbedaan di film dengan dibuku.

PEMERAN

Film ini melibatkan banyak Komika yang telah memiliki fans tersendiri. Sebut saja, Ernest Prakasa yang memerankan dirinya sendiri, Ardit Erwandha yang sampai saat ini memegang predikat sebagai Komika muda terganteng versi saya *peace*, Fico Fachriza jebolan SUCI Season 3, Ge Pamungkas, Bakriyadi, Adjis Doaibu, Awwe, Lolox, Muhadkly, Arrie Kriting yang sekaligus menjadi Comedy Coach, juga Bene Dion. Keberadaan mereka didampingi oleh aktor dan aktris kawakan yang namanya lebih terkenal dari mereka, seperti: Lala Karmela, Brandon Salim, Ferry Salim, Olga Lidya, Morgan Oey, Amel Carla, Ade Sechan, Budi Dalton, Angie Ang. Selain mereka, juga ada Kevin Anggara yang merupakan seorang Youtubers. Perpaduan akting mereka yang saling melengkapi patut diacungi jempol. Bikin film ini terasa lebih kaya dan tidak seperti autobiografi yang membosankan. 

KESIMPULAN

Pada akhirnya, saya harus mengakui bahwa sebagai sutradara baru, Ernest Prakasa benar-benar mempersiapkan segalanya secara matang. Mungkin, ditambah masukan-masukan dari rekan-rekannya yang lebih dulu membuat film, Ernest punya kesempatan lebih untuk tidak melakukan kesalahan seperti yang rekannya lakukan. Dan, dia berhasil membuktikan bahwa semangat, kerja keras dan kemauan untuk belajar akan membuahkan sesuatu yang manis. 

Walau pun film ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi, namun disepanjang film kita tidak akan sempat memikirkan kebenarannya. Semua mengalir alami, wajar, tidak mengada-ada atau lebay.

Bagi kalian yang butuh hiburan sebelum kembali pada rutinitas kerja yang membosankan, film ini menjadi salah satu yang direkomendasikan. Dijamin keluar dari bioskop tidak membuat anda menyesal telah menonton film yang satu ini. Lima bintang deh buat Ngenest The Movie!

No comments: